Filter Results
Keputusan: ( 1 sehingga 2 daripada 2 )
(0.027 saat)
#1
Al-Muminoon
:27
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Kemudian
Kami
wahyukan
kepadanya,
"Buatlah
bahtera
yang
akan
melindungimu
dari
kejahatan
mereka.
Kami
akan
mengayomi
dan
menunjukkan
kepadamu
cara
pembuatannya.
Ketika
tiba
saat
penyiksaan
mereka
nanti,
dan
kamu
menyaksikan
tanur
yang
memancarkan
air
atas
perintah
Kami,
segeralah
naik
kapal
itu
dengan
mengikutsertakan
semua
jenis
makhluk
hidup
secara
berpasangan:
jantan
dan
betina.
Sertakan
pula
keluargamu
kecuali
orang
yang
telah
Kami
tetapkan
untuk
disiksa
karena
tidak
mau
beriman.
Jangan
meminta-Ku
menyelamatkan
orang-orang
yang
menganiaya
diri
sendiri
dengan
bersikap
ingkar
dan
zalim,
sebab
Aku
telah
memutuskan
untuk
menenggelamkan
mereka
akibat
kezaliman
mereka
yang
bersikap
musyrik
dan
durhaka(1).
(1)
Meskipun
pemaparan
tentang
terjadinya
topan
pada
ayat
ini
disampaikan
secara
singkat,
namun
mengandung
makna
dan
fakta
ilmiah
yang
tidak
diketahui
orang
banyak.
Secara
etimologis,
kata
"tannûr"
berarti
'tempat
pembakaran
roti',
'permukaan
bumi
yang
dapat
memancarkan
air'
atau
'tempat
di
mana
terdapat
banyak
air'.
Ketika
kita
berusaha
memastikan
kapan
terjadinya
peristiwa
angin
topan
itu,
kita
akan
menemukan
kesilitan.
Sebab,
dalam
sejarah
umat
manusia
pernah
terjadi
banyak
peristiwa
angin
topan
pada
masa
yang
tidak
terlalu
berjauhan,
seperti
yang
pernah
terjadi
di
Babilonia,
India,
Cina
dan
Amerika.
Beberapa
peristiwa
topan
itu
terdapat
pula
dalam
cerita-cerita
rakyat.
Hanya
saja,
tampaknya
cerita-cerita
itu
tidak
ada
kaitannya
dengan
peristiwa
topan
besar
yang
terjadi
pada
masa
Nabi
Nûh.
Melalui
penelitian
dan
pengamatan,
terbukti
bahwa
alam
ini
mengalami
beberapa
kali
peristiwa
topan
besar.
Topan
terakhir
terjadi
akibat
berakhirnya
zaman
es
terakhir
dan
mencairnya
sebagian
besar
es
yang
membeku
di
kutub
utara
dan
selatan.
Kita
tidak
tahu
secara
pasti
kapan
keseimbangan
itu
mulai
hilang
lalu
mengakibatkan
terpancarnya
air
dari
dalam
tannûr
di
permukaan
bumi,
akibat
lonjakan
mencairnya
es
yang
luar
biasa
hingga
menyebabkan
naiknya
permukaan
air
laut
dan
menimbulkan
banjir
mahabesar.
Dapat
disebutkan
juga
di
sini
bahwa
peristiwa
terjadinya
pencairan
es
pada
zaman
es
terakhir
dibarengi
dengan
iklim
dengan
curah
hujan
sangat
tinggi
di
daerah-daerah
yang
tidak
berdekatan
dengan
kutub
utara
dan
selatan
seperti
kawasan
laut
tengah.
Apa
pun
yang
terjadi,
kita
memang
tidak
mempunyai
data
yang
cukup
lengkap
untuk
memastikan
kapankah
zaman
Nabi
Nûh
itu.
Namun
demikian,
semua
gejala
itu
menunjukkan
keajaiban
alam
dan
kemahakuasaan
Allah
Swt.
Di
antara
keajaiban
itu
adalah
pemberitahuan
Nûh
kepada
kaumnya
dengan
nada
nasihat
bahwa
Allah
akan
menurunkan
murka-Nya
dengan
menenggelamkan
mereka
apabila
tidak
mau
mendengar
nasihatnya.
Selain
itu,
merupakan
keajaiban
juga,
Allah
mewahyukan
Nûh
untuk
membuat
kapal.
Kemudian
datanglah
ketentuan
Allah
yang
berakibat
hilangnya
keseimbangan
alam
dengan
tannûr
yang
memancarkan
air
sebagai
pertandanya,
lalu
disusul
dengan
turunnya
hujan
deras.
Itu
semua
merupakan
bukti
apa
yang
difirmankan
Allah
kepada
Nûh
a.
s.
bahwa
Allah
Mahatahu
bahwa
di
antara
kaumnya
tidak
akan
ada
yang
beriman
selain
orang
yang
sudah
benar-benar
beriman
sebelumnya.
]
[ فأوحينا إليه أن اصنع الفلك بأعيننا ووحينا فإذا جاء أمرنا وفار التنور فاسلك فيها من كل زوجين اثنين وأهلك إلا من سبق عليه القول منهم ولا تخاطبني في الذين ظلموا إنهم مغرقون ] — المؤمنون 27
#2
An-Naml
:22
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Saat
itu
Hudhud
berada
di
suatu
tempat
yang
tidak
terlalu
jauh.
Beberapa
saat
kemudian
burung
itu
mendatangi
Sulaymân
dan
berkata,
"Aku
datang
dari
negeri
Saba'
membawa
berita
yang
belum
kau
ketahui
dan
tidak
perlu
kau
sangsikan
kebenarannya.
"(1).
(1)
Ayat
ini
dan
dua
ayat
berikutnya
adalah
ayat-ayat
yang
secara
khusus
mengisahkan
kerajaan
Saba',
salah
satu
kerajaan
di
kawasan
Yaman
di
Arab
Selatan,
yang
semenjak
dahulu
kala
dikenal
dengan
sebutan
"Negeri
Arab
Bahagia"
(Al-'Arabiyyah
al-Sa'îdah),
sebuah
sebutan
yang
menunjukkan
betapa
negeri
itu
merupakan
negeri
yang
maju
dan
kaya.
Yaman,
seperti
diketahui,
telah
memiliki
peradaban
sangat
tinggi
sejak
tahun
2000
S.
M.
dengan
perekonomiannya
yang
bersandar
pada
sistem
agraria
yang
maju.
Hal
itu
dimungkinkan
oleh
kesuburan
tanah
dan
iklim
yang
stabil.
Selain
pertanian,
peradaban
Yaman
juga
ditunjang
oleh
perdagangan.
Hal
ini
juga
dimungkinkan
karena
letaknya
yang
strategis,
yaitu
sebagai
penghubung
daratan
India,
Etiopia
(Habasyah),
Somalia,
Suriah
(Syam)
dan
Iraq.
Singkatnya,
beberapa
peninggalan
mereka
berupa
bendungan
besar
yang
dibangun
untuk
keperluan
irigasi,
dan
yang
paling
populer
di
antaranya
adalah
bendungan
Ma'rib
(lihat
Sayl
al-'Arim,
surat
Saba':
16),
bekas-bekas
kota
yang
berbenteng,
istana
dan
candi-candi
masih
bisa
disaksikan
sampai
sekarang.
Semua
itu
menunjukkan
kemajuan
sosial
dan
kekayaan
negeri
itu.
Relief-relief
yang
sempat
diabadikan
oleh
para
penguasa
mereka,
di
antaranya
berupa
undang-undang
yang
mengatur
soal
pemilikan
harta
tetap,
merupakan
alasan
cukup
kuat
untuk
menunjukkan
kemajuan
peradaban
mereka.
Puncak
kejayaan
kerajaan
Saba'
terjadi
sezaman
dengan
masa
Nabi
Sulaymân
a.
s,
sekitar
tahun
10
S.
M.
Sistem
pemerintahan
yang
dianut
adalah
sistem
kerajaan,
sistem
pemerintahan
turun
temurun.
Semasa
Sulaymân
itu,
yang
menjadi
penguasa
Saba'
adalah
seorang
wanita.
Para
ahli
sejarah
berbeda
pendapat
mengenai
nama
sang
ratu
itu.
Orang-orang
Arab
menyebutnya
Balqîs.
Dalam
menjalankan
roda
pemerintahan,
Balqîs
dibantu
oleh
sebuah
badan
yang
fungsinya
kira-kira
sama
dengan
Majelis
Permusyawaratan
saat
ini
(perhatikan
ayat
28–33
surat
ini).
Sampai
saat
ini
belum
ada
catatan
sejarah
yang
mengatakan
bahwa
Saba'
merupakan
negara
ekspansif,
lebih
dari
negara
perdagangan
dan
kafilah.
Hanya
sedikit
saja
peninggalan-peninggalan
sejarah
yang
menyebut-nyebut
soal
ekspansi
dan
peperangan.
Tugas
dan
fungsi
tentara
negeri
itu
terbatas
hanya
pada
penjagaan
benteng
dan
pengawalan
kafilah-kafilah
dagang.
Rakyat
negeri
Saba'
dikenal
sebagai
kaum
paganis,
sebagaimana
dituturkan
ayat
ke-24
dari
surat
ini.
Matahari
dan
bintang
merupakan
tuhan
utama
mereka,
dan
mereka
mempersembahkan
sajian
dan
dupa
untuk
tuhan-tuhan
itu.
]
[ فمكث غير بعيد فقال أحطت بما لم تحط به وجئتك من سبإ بنبإ يقين ] — النمل 22