Filter Results
Keputusan: ( 1 sehingga 2 daripada 2 )
(0.023 saat)
#1
An-Naml
:22
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Saat
itu
Hudhud
berada
di
suatu
tempat
yang
tidak
terlalu
jauh.
Beberapa
saat
kemudian
burung
itu
mendatangi
Sulaymân
dan
berkata,
"Aku
datang
dari
negeri
Saba'
membawa
berita
yang
belum
kau
ketahui
dan
tidak
perlu
kau
sangsikan
kebenarannya.
"(1).
(1)
Ayat
ini
dan
dua
ayat
berikutnya
adalah
ayat-ayat
yang
secara
khusus
mengisahkan
kerajaan
Saba',
salah
satu
kerajaan
di
kawasan
Yaman
di
Arab
Selatan,
yang
semenjak
dahulu
kala
dikenal
dengan
sebutan
"Negeri
Arab
Bahagia"
(Al-'Arabiyyah
al-Sa'îdah),
sebuah
sebutan
yang
menunjukkan
betapa
negeri
itu
merupakan
negeri
yang
maju
dan
kaya.
Yaman,
seperti
diketahui,
telah
memiliki
peradaban
sangat
tinggi
sejak
tahun
2000
S.
M.
dengan
perekonomiannya
yang
bersandar
pada
sistem
agraria
yang
maju.
Hal
itu
dimungkinkan
oleh
kesuburan
tanah
dan
iklim
yang
stabil.
Selain
pertanian,
peradaban
Yaman
juga
ditunjang
oleh
perdagangan.
Hal
ini
juga
dimungkinkan
karena
letaknya
yang
strategis,
yaitu
sebagai
penghubung
daratan
India,
Etiopia
(Habasyah),
Somalia,
Suriah
(Syam)
dan
Iraq.
Singkatnya,
beberapa
peninggalan
mereka
berupa
bendungan
besar
yang
dibangun
untuk
keperluan
irigasi,
dan
yang
paling
populer
di
antaranya
adalah
bendungan
Ma'rib
(lihat
Sayl
al-'Arim,
surat
Saba':
16),
bekas-bekas
kota
yang
berbenteng,
istana
dan
candi-candi
masih
bisa
disaksikan
sampai
sekarang.
Semua
itu
menunjukkan
kemajuan
sosial
dan
kekayaan
negeri
itu.
Relief-relief
yang
sempat
diabadikan
oleh
para
penguasa
mereka,
di
antaranya
berupa
undang-undang
yang
mengatur
soal
pemilikan
harta
tetap,
merupakan
alasan
cukup
kuat
untuk
menunjukkan
kemajuan
peradaban
mereka.
Puncak
kejayaan
kerajaan
Saba'
terjadi
sezaman
dengan
masa
Nabi
Sulaymân
a.
s,
sekitar
tahun
10
S.
M.
Sistem
pemerintahan
yang
dianut
adalah
sistem
kerajaan,
sistem
pemerintahan
turun
temurun.
Semasa
Sulaymân
itu,
yang
menjadi
penguasa
Saba'
adalah
seorang
wanita.
Para
ahli
sejarah
berbeda
pendapat
mengenai
nama
sang
ratu
itu.
Orang-orang
Arab
menyebutnya
Balqîs.
Dalam
menjalankan
roda
pemerintahan,
Balqîs
dibantu
oleh
sebuah
badan
yang
fungsinya
kira-kira
sama
dengan
Majelis
Permusyawaratan
saat
ini
(perhatikan
ayat
28–33
surat
ini).
Sampai
saat
ini
belum
ada
catatan
sejarah
yang
mengatakan
bahwa
Saba'
merupakan
negara
ekspansif,
lebih
dari
negara
perdagangan
dan
kafilah.
Hanya
sedikit
saja
peninggalan-peninggalan
sejarah
yang
menyebut-nyebut
soal
ekspansi
dan
peperangan.
Tugas
dan
fungsi
tentara
negeri
itu
terbatas
hanya
pada
penjagaan
benteng
dan
pengawalan
kafilah-kafilah
dagang.
Rakyat
negeri
Saba'
dikenal
sebagai
kaum
paganis,
sebagaimana
dituturkan
ayat
ke-24
dari
surat
ini.
Matahari
dan
bintang
merupakan
tuhan
utama
mereka,
dan
mereka
mempersembahkan
sajian
dan
dupa
untuk
tuhan-tuhan
itu.
]
[ فمكث غير بعيد فقال أحطت بما لم تحط به وجئتك من سبإ بنبإ يقين ] — النمل 22
#2
An-Nahl
:92
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Janganlah
kalian--dalam
mengingkari
sumpah
setelah
sumpah
itu
dikukuhkan--seperti
perempuan
gila
yang
sedang
menenun
dengan
tekun,
hingga
ketika
telah
menjadi
kain,
tenunan
itu
dirusaknya
kembali
hingga
bercerai
berai.
Sementara
itu
pula
kalian
menjadikan
sumpah
sebagai
alat
untuk
menipu
dan
memperdayai
kelompok
lain
karena
kalian
merasa
lebih
banyak
dan
lebih
kuat
dari
mereka,
atau
dengan
tujuan
memihak
kelompok
lain
yang
menjadi
musuh
mereka
karena
kelompok
baru
itu
lebih
kuat.
Atau
kalian
bermaksud
mencari
kekuatan
dengan
cara
berkhianat.
Ketahuilah,
bahwa
semua
itu
adalah
ujian
dari
Allah.
Apabila
kalian
memilih
untuk
menepati
janji,
maka
kalian
akan
mendapat
keuntungan
dunia-akhirat.
Sebaliknya
jika
kalian
memilih
berkhianat,
kalian
akan
merugi.
Di
hari
kiamat
Allah
akan
menjelaskan
persoalan-persoalan
yang
kalian
perselisihkan
di
dunia
selama
ini
dan
akan
memberi
balasan
sesuai
amal
perbuatan
kalian(1).
(1)
Kedua
ayat
di
atas
memberikan
pernyataan
bahwa
asas
hubungan
antar
muslim
dan
non
muslim,
selain
keadilan,
adalah
menepati
janji.
Kedua
ayat
ini
pun
menegaskan
bahwa
hubungan
antarnegara
hanya
bisa
terjalin
dengan
menepati
janji,
dan
bahwa
negara-
negara
Islam,
setiap
kali
mengadakan
perjanjian
selalu
didasarkan
pada
penyebutan
nama
Allah
yang
mengandung
janji
dan
jaminan-
Nya.
Ada
tiga
hal
yang
jika
dilaksanakan
oleh
negara-negara
di
dunia,
maka
cita-cita
perdamaian
akan
tercapai.
Pertama,
perjanjian
antarnegara
yang
telah
dibuat
bersama
tidak
dibenarkan
sama
sekali
untuk
dijadikan
sebagai
alat
menipu.
Dan
upaya
penipuan
selamanya
tidak
dapat
dibenarkan
dalam
hubungan
kemanusiaan
secara
total,
baik
pada
tataran
individu,
masyarakat
dan
bangsa.
Kedua,
menepati
janji
adalah
sebuah
kekuatan.
Sehingga
siapa
pun
pihak
yang
melanggar
perjanjian,
sama
artinya
merobohkan
unsur-
unsur
kekuatan
yang
telah
dibangunnya,
persis
seperti
perempuan
bodoh
yang
merusak
tenunannya
sendiri
setelah
selesai.
Ketiga,
melanggar
perjanjian
adalah
tindakan
yang
tidak
dapat
dibenarkan
dengan
alasan
apa
pun
seperti
upaya
membangun
kekuatan
sendiri,
melegitimasi
tindakan-tindakan
ekspansif
dan
sebagainya.
]
[ ولا تكونوا كالتي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثا تتخذون أيمانكم دخلا بينكم أن تكون أمة هي أربى من أمة إنما يبلوكم الله به وليبينن لكم يوم القيامة ما كنتم فيه تختلفون ] — النحل 92