Filter Results
Sonuçlar: ( 1 - 2 | 2 )
(0,023 saniye)
#1
Al Imran
:159
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Sebagai
wujud
kasih
sayang
Allah
kepada
kamu
dan
mereka,
kamu
bersikap
lemah
lembut
dan
tidak
berkata
kasar
karena
kesalahan
mereka.
Dan
seandainya
kamu
bersikap
kasar
dan
keras,
mereka
pasti
akan
bercerai
berai
meninggalkanmu.
Oleh
sebab
itu,
lupakanlah
kesalahan
mereka.
Mintakanlah
ampunan
untuk
mereka.
Dan
ajaklah
mereka
bermusyawarah
untuk
mengetahui
pendapat
mereka
dalam
berbagai
persoalan
yang
tidak
disebut
dalam
wahyu.
Apabila
kamu
telah
bertekad
untuk
mengambil
suatu
langkah
setelah
terebih
dahulu
melakukan
musyawarah,
laksanakanlah
langkah
itu
dengan
bertawakkal
kepada
Allah,
karena
Allah
benar-benar
mencintai
orang-orang
yang
menyerahkan
urusan
kepada-Nya
(1).
(1)
Musyawarah
atau
syûrâ
adalah
salah
satu
pokok
ajaran
yang
sangat
penting
dalam
Islam.
Dalam
adagium
Arab-Islam
dikatakan,
"Orang
beristikharah
tak
akan
gagal,
orang
bermusyawarah
tak
akan
menyesal."
Sesuai
dengan
kebiasaan
gayanya
dalam
menetapkan
hukum,
al-Qur'ân
hanya
menjelaskan
prinsip-prinsip
umum
dan
garis
besarnya
saja.
Selanjutnya,
perinciannya
diserahkan
kepada
manusia,
sesuai
tuntutan
ruang
dan
waktu.
Oleh
sebab
itu,
adakalanya
sistem
perwakilan
dalam
suatu
pemerintahan,
di
mana
semua
anggota
pemerintahan
bertanggung
jawab
kepada
parlemen,
cocok
untuk
negara-negara
tertentu
seperti
Inggris
dan
Perancis.
Pengalaman
sejarah
membuat
mereka
terbiasa
dengan
model
pemerintahan
seperti
itu.
Adakalanya
pula
sistem
presidensial,
dengan
syûrâ
yang
relatif
luas,
karena
keinginan
perkembangan
cepat
dan
tidak
mau
terlalu
terganggu
oleh
jatuh
bangunnya
kabinet,
lebih
cocok
untuk
negar-negara
tertentu
seperti
Amerika
Serikat.
Dan,
adakalanya
pula
syûrâ
model
pertengahan
antara
presidensial
dan
parlementer
lebih
cocok
untuk
negara
lain
seperti
Mesir.
Dengan
demikian,
tiap
negara
dan
kelompok
bebas
menentukan
model
syûrâ
yang
mereka
anggap
sesuai
dengan
dimensi
ruang
dan
waktu
masing-masing.
Yang
penting,
prinsip
syûrâ
harus
terwujud
untuk
menghindari
dominasi
dan
kesewenang-wenangan
individu.
Demikianlah,
al-Qur'ân
telah
mencantumkan
prinsip
musyawarah
sejak
14
abad
yang
lalu.
]
[ فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين ] — آل عمران 159
#2
An-Naziat
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[79
~
AN-NAZI'AT
(PARA
PENCABUT)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
46
ayat
~
Ayat-ayat
pembukaan
surat
al-Nazi'ât
berisikan
sumpah
Allah
Swt.
bahwa
hari
kebangkitan
mungkin,
tidak
mustahil,
terjadi.
Ayat-ayat
selanjutnya
menuturkan
kisah
Mûsâ
a.
s.
bersama
Fir'aun
dengan
tujuan
menghibur
hati
Nabi
Muhammad
saw.
Surat
ini
menyinggung
pula
upaya
dan
kiat
manusia
di
dunia,
memaparkan
dengan
jelas
nasib
buruk
yang
akan
menimpa
orang
yang
berbuat
sewenang-wenang
(zalim)
dan
orang-orang
yang
melakukan
pengkhianatan.
Pada
bagian
akhir
surat
dijelaskan
sikap
orang-orang
musyrik
yang
bertanya-tanya
tentang
masa
datangnya
hari
kiamat.
Ditutup
dengan
keterangan
menyangkut
tugas
Nabi
Muhammad
sebagai
pemberi
peringatan
kepada
manusia
yang
merasa
dirinya
takut
pada
hari
kiamat,
bukan
untuk
memberitahukan
waktu
terjadinya.]]
Aku
bersumpah
demi
yang
diberi
kekuatan
untuk
mencabut
sesuatu
dari
akarnya
dengan
kuat,
]
[ والنازعات غرقا ] — النازعات 1