Filter Results
Sonuçlar: ( 1 - 20 | 6317 )
(0,035 saniye)
#1
Al-Baqarah
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[2
~
AL-BAQARAH
(SAPI)
Pendahuluan:
Madaniyyah,
286
ayat
~
Surat
yang
termasuk
dalam
kelompok
Madaniyyah
yang
diturunkan
di
Madinah
setelah
hijrah
ini,
adalah
surat
terpanjang
di
antara
seluruh
surat
al-Qur'ân.
Surat
ini
mulai
memerinci
hal-hal
yang
disebutkan
secara
singkat
dan
global
pada
surat
sebelumnya
(al-Fâtihah).
Pada
surat
ini,
misalnya,
selain
ditegaskan
bahwa
al-Qur'ân
adalah
sumber
petunjuk
kebenaran,
juga
disebut
ihwal
orang-orang
yang
memperoleh
keridaan
Allah
dan
orang-orang
yang
mendapatkan
kemurkaan-Nya,
yaitu
golongan
kafir
dan
munafik.
Setelah
penegasan
bahwa
al-Qur'ân
adalah
kitab
petunjuk
yang
tidak
diragukan
kebenarannya,
pada
surat
ini
mulai
dibicarakan
tiga
kelompok
manusia,
yaitu
kelompok
Mukmin,
kafir
dan
munafik,
seraya
mengajak
umat
manusia
untuk
menyembah
Allah
semata
dengan
memberi
ancaman
bagi
orang
kafir
dan
kabar
gembira
bagi
orang
Mukmin.
Kemudian,
surat
ini
secara
khusus
berbicara
mengenai
Banû
Isrâ'îl
dan
mengajak
mereka
untuk
kembali
kepada
kebenaran.
Mereka
diingatkan
tentang
hari-hari
Allah,
tentang
kejadian-kejadian
yang
menimpa
mereka
ketika
menyertai
Mûsâ
a.
s.,
tentang
Ibrâhîm
dan
Ismâ'îl
a.
s.
yang
membangun
Ka'bah.
Di
sela-sela
pembicaraan
mengenai
kisah
Banû
Isrâ'îl
yang
cukup
panjang
hingga
hampir
mencapai
setengah
isi
surat,
seringkali
didapati
ajakan
kepada
orang-orang
Mukmin
untuk
mengambil
pelajaran
dari
apa
yang
telah
menimpa
orang-orang
Yahudi
dan
Nasrani
itu.
Selanjutnya,
pembicaraan
beralih
kepada
Ahl
al-Qur'ân
(orang-orang
Mukmin)
dengan
mengingatkan
kesamaan
antara
umat
Mûsâ
a.
s.
dan
umat
Muhammad
saw.
yang
berasal
dari
keturunan
Ibrâhîm
a.
s.
Disebut
pula
ihwal
kiblat
dan
sebagainya,
lalu
diutarakan
pula
tentang
tauhid
dan
tanda-tanda
kemahaesaan
Allah,
tentang
syirik,
tentang
makanan
yang
diharamkan
dan
penegasan
bahwa
hanya
Allahlah
yang
berhak
menghalalkan
dan
mengharamkan
sesuatu.
Beberapa
prinsip
kebajikan
juga
dijelaskan
dalam
surat
ini,
seperti
hukum
puasa,
wasiat,
larangan
memakan
harta
secara
tidak
benar,
hukum
kisas,
hukum
perang,
manasik
haji,
larangan
meminum
khamar
dan
berjudi,
hukum
nafkah,
larangan
riba,
hukum
jual
beli
dan
utang
piutang,
hukum
nikah,
talak,
idah,
dan
sebagainya.
Masalah
tauhid,
kenabian
dan
hari
kebangkitan
yang
merupakan
pokok-pokok
akidah,
juga
disebutkan
dalam
surat
ini.
Sebagai
khatimah,
surat
ini
ditutup
dengan
doa
orang-orang
Mukmin
agar
Allah
memberi
pertolongan
dan
kemenangan
kepada
mereka.
Ada
beberapa
kaidah
yang
dapat
dipetik
dari
surat
ini,
antara
lain,
bahwa:
a.
hanya
dengan
mengikuti
jalan
Allah
dan
melaksanakan
ajaran-ajaran
agama-Nya,
umat
manusia
akan
dapat
mencapai
kebahagiaan
dunia
dan
akhirat;
b.
tidak
selayaknya
orang
yang
berakal
mengajak
orang
lain
kepada
kebenaran
dan
kebajikan,
sedangkan
ia
tidak
melakukannya;
c.
wajib
hukumnya
mendahulukan
kebaikan
daripada
kejahatan
dan
membuat
suatu
prioritas
dengan
melakukan
yang
terbaik
dari
yang
baik;
d.
pokok-pokok
ajaran
agama
ada
tiga,
yaitu
beriman
kepada
Allah,
beriman
kepada
hari
kebangkitan
dan
melakukan
amal
salih.
Dan
bahwa
ganjaran
itu
diperoleh
atas
dasar
keimanan
dan
amal
sekaligus;
e.
syarat
keimanan
adalah
tunduk
dan
pasrah
kepada
apa-apa
yang
dibawa
oleh
Rasul;
f.
bahwa
orang-orang
non
Muslim
tidak
akan
merasa
puas
sampai
orang-orang
Islam
mengikuti
agama
mereka;
g.
kekuasaan
yang
benar
dalam
agama,
harus
berada
di
tangan
orang-orang
yang
beriman
dan
orang-orang
yang
berlaku
adil,
bukan
di
tangan
orang-orang
kafir
dan
zalim;
h.
beriman
kepada
agama
Allah
sebagaimana
yang
diturunkan-Nya,
mengarah
kepada
kesatuan
dan
persatuan,
sementara
meninggalkan
petunjuk-Nya
akan
menimbulkan
perselisihan
dan
perpecahan;
i.
perkara-perkara
yang
terpuji
bisa
dicapai
dengan
kesabaran
dan
salat.
Bahwa
taqlîd
(mengikuti
pendapat
orang
lain
tanpa
mengetahui
dasarnya)
adalah
tidak
benar
dan
dapat
menimbulkan
kebodohan
dan
kefanatikan;
j.
Allah
Swt.
menghalalkan
bermacam-macam
makanan
yang
baik
kepada
hamba-Nya
dan
mengharamkan
dalam
jumlah
terbatas
hal-hal
yang
kotor.
Siapa
pun
selain
Allah
tidaklah
berhak
menentukan
haram
halalnya;
k.
sesuatu
yang
diharamkan
dapat
menjadi
halal
bagi
orang
yang
dalam
keadaan
terpaksa,
karena
keadaan
darurat
dapat
menghalalkan
sesuatu
yang
dilarang
dalam
batas-batas
tertentu;
l.
agama
ditegakkan
atas
dasar
kemudahan
dan
menghilangkan
kesulitan.
Allah
tidak
membebani
manusia
sesuatu
di
atas
kemampuannya;
m.
menjerumuskan
diri
sendiri
ke
dalam
kehancuran
haram
hukumnya;
n.
untuk
mencapai
sesuatu
tujuan,
seseorang
harus
menempuh
jalan
yang
akan
mengarah
kepadanya
(hukum
sebab
akibat);
o.
pemaksaan
dalam
beragama
tidak
dibenarkan;
p.
berperang
melawan
musuh
diperintahkan
untuk
membela
diri,
demi
menjamin
kebebasan
beragama
dan
tegaknya
Islam
dalam
masyarakat;
q.
seorang
Muslim
boleh
mengejar
kebahagiaan
di
dunia
sebagaimana
ia
melaksanakan
kewajibannya
demi
kebahagiaan
di
akhirat;
r.
sesungguhnya
sadd
al-dzarâ'i'
(mencegah
perbuatan-perbuatan
yang
mengarah
kepada
perbuatan
haram)
dan
pencapaian
maslahat,
merupakan
maqâshid
syar'iyyah
(tujuan-tujuan
umum
syariat
Islam);
s.
keimanan
dan
kesabaran
merupakan
faktor
penyebab
kemenangan
minoritas
yang
adil
atas
mayoritas
yang
tiran;
t.
memakan
harta
orang
lain
dengan
cara
yang
tidak
dibenarkan
adalah
haram
hukumnya;
u.
ganjaran
seseorang
ditentukan
oleh
amal
perbuatannya
sendiri,
bukan
amal
perbuatan
orang
lain;
v.
Hikmah
al-tasyrî'
(falsafah
hukum
Islam)
dapat
dibuktikan
oleh
akal
sehat,
karena
hukum
Islam
mengandung
kebenaran,
keadilan
dan
maslahat
manusia.]]
Alif,
Lâm,
Mîm.
Allah
Swt.
memulai
dengan
huruf-huruf
eja
ini
untuk
menunjukkan
mukjizat
al-Qur'ân,
karena
al-Qur'ân
disusun
dari
rangkaian
huruf-huruf
eja
yang
digunakan
dalam
bahasa
bangsa
Arab
sendiri.
Meskipun
demikian,
mereka
tidak
pernah
mampu
untuk
membuat
rangkaian
huruf-huruf
itu
menjadi
seperti
al-Qur'ân.
Huruf-huruf
itu
gunanya
untuk
menarik
perhatian
pendengarnya
karena
mengandung
bunyi
yang
berirama.
]
[ الم ] — البقرة 1
#2
Az-Zumar
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[39
~
AZ-ZUMAR
(ROMBONGAN)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
75
ayat
~
Surat
ini
termasuk
kelompok
surat
yang
diturunkan
pada
periode
Mekah,
kecuali
ayat-
ayat
52,
53
dan
54
yang
turun
pada
periode
Madinah.
Surat
ini
diawali
dengan
isyarat
betapa
tingginya
kedudukan
al-Qur'ân,
ajakan
untuk
memurnikan
ibadah
hanya
kepada
Allah,
dan
bantahan
terhadap
orang
yang
mengatakan
bahwa
Allah
mempunyai
anak.
Setelah
itu,
surat
ini
membicarkan
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
dalam
penciptaan
langit,
bumi
dan
manusia.
Ihwal
bahwa
jika
manusia
mengingkari
Allah
Dia
tetap
Mahakaya
dan
tidak
membutuhkannya,
dan
apabila
mereka
bersyukur
akan
diridai
Allah;
dan
bahwa
Allah
tidak
akan
pernah
merelakan
kekufuran,
juga
merupakan
persoalan-persoalan
yang
dibahas
dalam
surat
ini.
Selain
itu,
dibicarakan
pula
watak
dan
tabiat
manusia
yang
secara
umum
memiliki
dua
karakter.
Pertama,
apabila
tertimpa
musibah
ia
akan
berdoa
dan
kembali
kepada
Tuhannya
dan,
kedua,
apabila
mendapat
kebahagiaan
ia
segera
melupakan
apa
yang
dahulu
dimintanya.
Kemudian
dibicarakan
pula
perbandingan
antara
orang
yang
waspada
menghadapi
kehidupan
akhirat
dan
mengharap
rahmat
Tuhannya
dengan
orang-orang
yang
membangkang
Tuhannya,
serta
balasan
masing-masing
di
hari
kiamat.
Ihwal
pemberian
rahmat
kepada
mereka
dengan
menurunkan
air
hujan,
juga
disebut
di
sini.
Dengan
air
itu,
Allah
menghidupkan
bumi
setelah
sebelumnya
tandus
dan
mati,
dan
menumbuhkan
pepohonan
dan
proses
pertumbuhannya
yang
melalui
beberapa
fase.
Itu
semua
mengandung
peringatan
dan
pelajaran
bagi
orang-orang
yang
berakal.
Surat
ini
kemudian
berbicara
kembali
mengenai
al-Qur'ân
dan
pengaruhnya
terhadap
orang-orang
yang
takut
kepada
Tuhan.
Di
dalam
al-Qur'ân
itu,
Allah
memberikan
berbagai
tamsil
agar
mereka
mau
mengambil
pelajaran
dan
peringatan,
al-Qur'ân
yang
tidak
bengkok,
supaya
mereka
bersiap-
siap
dan
berhati-hati.
Di
bagian
lain,
terdapat
perbandingan
antara
hamba
yang
musyrik
dan
hamba
yang
tulus
beribadah
kepada
Allah.
Mereka
tidaklah
sama!
Juga
terdapat
peringatan
bahwa
kematian
adalah
suatu
keniscayaan
bagi
semua
makhluk
hidup.
Mereka
akan
saling
menyalahkan
di
hadapan
Allah.
Selain
itu,
terdapat
pula
keterangan
mengenai
akhir
perjalanan
orang
yang
mendustakan
Allah
dan
menustakan
kebenaran
yang
dibawa
Rasul-Nya,
serta
akhir
perjalanan
orang-orang
yang
benar
dalam
perkataannya
dan
membenarkan
serta
mempercayai
ajaran-ajaran
yang
disampaikan
mereka.
Surat
ini
mengisahkan
pula
bahwa
orang-orang
musyrik,
apabia
ditanya
mengenai
siapa
pencipta
langit
dan
bumi,
akan
mengatakan
"Allah".
Tetapi,
kendati
demikian,
mereka
tetap
menyembah
berhala
yang
sama
sekali
tidak
dapat
menolak
musibah
yang
dikehendaki
Allah
dan
tidak
bisa
pula
menahan
rahmat
jika
Allah
berkehendak
menurunkannya
kepada
mereka.
Setelah
itu,
surat
ini
menegaskan
bahwa
kitab
suci
al-Qur'ân
ini
diturunkan
dengan
benar.
Oleh
karena
itu,
barangsiapa
yang
mau
mengambil
petunjuk
dari
al-Qur'ân,
maka
keuntungannya
akan
kembali
kepada
dirinya
sendiri.
Begitu
pula
sebaliknya,
barangsiapa
yang
tersesat,
maka
dosanya
pun
akan
ditanggung
sendiri.
Selain
itu,
surat
ini
menegaskan
pula
bahwa
Rasulullah
saw.
diutus
bukan
sebagai
penguasa.
Setelah
itu,
surat
ini
kembali
mengingatkan
mereka,
orang-orang
musyrik,
tentang
kematian
dan
hari
kebangkitan,
dan
bahwa
apa
yang
mereka
anggap
sebagai
sekutu-sekutu
Allah
tidak
memiliki
apa-apa,
bahkan
syafaat
sekalipun.
Syafaat
hanya
ada
pada
Allah
Swt.
Ketika
pembicaraan
mengenai
ancaman
yang
diberikan
kepada
orang-orang
yang
durhaka
dan
orang-orang
yang
berlebih-
lebihan
berupa
siksa
yang
sangat
pedih--yang
bisa
jadi
menimbulkan
perasaan
putus
asa
akan
rahmat
Allah
pada
diri
manusia--Allah
membuka
pintu
harapan
lagi.
Firman-Nya
yang
berbunyi:
"Katakan,
wahai
Muhammad,
kepada
orang-orang
yang
berlebih-lebihan
atas
diri
mereka,
'Jangan
kalian
berputus
asa
akan
rahmat
Allah.
Sesungguhnya
Allah
akan
mengampuni
semua
dosa.
Dia
sungguh
Maha
Pengampun
dan
Maha
Pengasih',"
yang
disebut
di
bagian
akhir
surat
ini,
adalah
isyarat
untuk
itu.
Allah
kemudian
mengajak
mereka
untuk
kembali
kepada-Nya
sebelum
datangnya
siksaan
secara
tiba-tiba
pada
saat
mereka
tidak
merasakannya.
Dalam
hal
ini,
Allah
berfirman,
"Pada
hari
kiamat
kamu
akan
melihat
wajah
orang-orang
yang
mendustakan
Allah
tampak
hitam,
dan
orang-orang
yang
bertakwa
kepada-Nya
tidak
akan
menderita
dan
tidak
akan
bersedih
hati."
Surat
ini
kemudian
diakhiri
dengan
pembicaraan
mengenai
hari
akhir,
mulai
dari
peniupan
sangkakala
yang
membuat
semua
makhluk
yang
ada
di
langit
dan
di
bumi
jatuh
tersungkur,
kecuali
mereka
yang
dikehendaki-Nya,
sampai
kepada
pengambilan
hak
oleh
masing-masing
orang.
Penghuni
neraka
akan
digiring
ke
dalam
neraka,
dan
penghuni
surga
akan
diantar
ke
surga.
Penghuni
surga
akan
berkata,
"Puji
syukur
bagi
Allah
yang
telah
menepati
janji-Nya
kepada
kita."
Perkara
antara
mereka
telah
diputuskan
dengan
benar.
Mereka
pun,
kemudian,
mengucapkan,
"Al-hamd-u
lillâh-i
rabb-i
al-'âlamîn."]]
Penurunan
al-Qur'ân
adalah
oleh
Allah
yang
kehendak-Nya
tidak
dikendalikan
oleh
siapa
pun,
Yang
Mahabijaksana
pada
setiap
tindakan
dan
ketetapan
hukum-Nya.
]
[ تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم ] — الزمر 1
#3
Al-Muminoon
:80
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Dia
pula
yang
menghidupkan
dan
mematikan
sesuatu.
Atas
perintah
dan
ketentuan
hukum-Nya,
siang
dan
malam
datang
silih
berganti
dengan
jarak
jurasi
yang
berbeda-beda.
Tidakkah
kalian
memikirkan
bukti
kemahakuasaan-Nya
dan
memahami
kewajiban
beriman
kepada-Nya
dan
kepada
hari
kebangkitan?(1).
(1)
Dalam
al-Qur'ân
banyak
ditemukan
ayat-ayat
yang
berbicara
mengenai
gejala
siang
dan
malam.
Hal
itu
menunjukkan
bahwa
Allah
Swt.
mengingatkan
umat
manusia
akan
begitu
dalamnya
arti
yang
dikandung
dalam
siang
dan
malam
sebagai
gejala
alam,
dan
mendorong
para
cendekiawan
untuk
berpikir
dan
mengadakan
penelitian.
Perbedaan
siang
dan
malam
ini
menimbulkan
dua
hal:
perbedaan
waktu
panjang
pendeknya
(jurasi),
dan
perbedaan
dalam
beberapa
gejala
alam
yang
dapat
dilihat.
Pertama,
perbedaan
jurasi.
Siang
adalah
suatu
masa
yang
dimulai
dengan
menyingsingnya
fajar
sampai
terbenamnya
matahari
di
ufuk
barat,
hingga
seolah
menyentuh
permukaan
bumi,
seperti
yang
kita
saksikan
sehari-hari,
padahal
sebenarnya
pinggir
atas
matahari
tidak
berada
di
ufuk.
Itu
terjadi
karena
sinar
yang
terpancar
itu
melengkung
pada
saat
refraksi
ketika
sinar
sedang
berjalan
pada
lapisan-lapisan
udara
sampai
tiba
kepada
penglihatan
kita.
Dengan
demikian,
ia
tampak
seolah-olah
berada
di
ufuk.
Tepian
itu
sebenarnya
bearada
di
bawah
ufuk
sekitar
35
menit
lengkung.
Sedangkan
malam,
adalah
suatu
masa
yang
merupakan
kelanjutan
siang.
Jumlah
masa
siang
dan
malam
sama
dengan
satu
masa
rotasi
bumi
pada
porosnya
dari
barat
sampai
ke
timur.
Antara
siang
dan
malam
terdapat
dua
masa,
yaitu
masa
remang
barat
dan
masa
remang
timur.
Panjang
jurasi
siang
berbeda
dari
satu
tempat
ke
tempat
lain
dan
tergantung
pada
musim.
Begitu
juga
bahwa
jurasi
malam,
waktu-waktu
salat
dan
puasa
ditentukan
berdasarkan
posisi
bola
matahari
terhadap
ufuk.
Kedua,
perbedaan
dalam
beberapa
gejala
alam.
Gejala-gejala
itu
bermacam-macam
bentuknya
yang
muncul
akibat
interaksi
antara
sinar
matahari--dengan
kandungan
sinar
positif,
visibel
dan
takvisibel--dengan
partikel-partikel
yang
mengalirkan
listrik,
atmosfer,
permukaan
laut
dan
sahara,
dan
seterusnya.
Selain
itu,
gejala
itu
dapat
pula
berbentuk
gerhana
matahari,
gerhana
bulan,
bintang,
bintang
berekor,
planet
dan
meteor
yang
pada
siang
hari
tidak
tampak
karena
tertutup
oleh
sinar
matahari
yang
sangat
terang.
Letak
perbedaan
paling
menonjol
antara
siang
dan
malam
adalah
adanya
cahaya
pada
siang
hari
yang
disebabkan
oleh
pancaran
sinar
langsung
matahari
yang
jatuh
pada
atmosfer
yang
terdiri
atas
molekul-molekul
dan
mengandung
atom-atom
debu.
Sinar
itu
kemudian
terefleksi
dan
terpancar
ke
seluruh
penjuru.
Pada
saat
udara
cerah,
atom-atom
debu
sangat
kecil
dan
posisi
bola
matahari
sangat
tinggi
di
atas
ufuk,
yang
akan
terpancar
dan
tampak
oleh
mata
adalah
warna
biru.
Langit
pun
akan
tampak
biru.
Tetapi,
pada
saat
matahari
terbit
atau
terbenam,
ufuk
akan
tampak
berwarna
oranye
dan
perlahan-lahan
menjadi
merah.
Cahaya
biru
yang
terpancar
hanya
tampak
sedikit
sekali.
Oleh
karena
itu,
langit
pun
berwarna
biru
kegelapan.
Pada
saat
matahari
terbenam
di
ufuk
[barat],
kita
dapat
menyaksikan
warna
hijau
di
lapisan
atasnya
selama
satu
detik
atau
kurang.
Gejala
ini
disebut
"kilauan
hijau"
yang
mudah
dilihat
di
atas
permukaan
laut,
di
balik
puncak
gunung
atau
di
balik
dinding
rumah.
Gejala
ini
timbul
akibat
inklinasi
cahaya
matahari
yang
menyebabkan
larutnya
visi
matahari
menjadi
beberapa
warna,
termasuk
warna
hijau
ini.
Singkatnya,
sinar
matahari
mengandung
beberapa
warna,
visibel
dan
takvisibel,
yang
masing-masing
berbeda
panjang
gelombangnya.
Gelombang-gelombang
itu
sendiri
memiliki
beberapa
ciri
seperti
refraksi,
refleksi,
separasi,
interpenetrasi,
polarisasi
dan
inklinasi.
Apabila
tanda-tanda
itu
berinteraksi
dengan
atmosfer
pada
kondisi
tertentu,
kita
akan
melihat,
sebagai
akibatnya,
gejala
siang,
fatamorgana,
pelangi,
korona
matahari
dan
gejala-gejala
lainnya.
Pada
saat
matahari
tenggelam
di
balik
ufuk,
langit
akan
tampak
beraneka
warna,
sesuai
dengan
tingkat
separasi
sinar
matahari
di
dalam
lapisan
atas
udara.
Dan
ketika
bola
matahari
semakin
menurun,
lembayung
di
ufuk
barat
akan
menghilang
secara
perlahan.
Warnanya
pun
akan
sirna.
Lalu
apabila
turunnya
bola
matahari
itu
mencapai
kelengkungan
18,5
derajat,
langit
akan
berwarna
gelap.
Para
ahli
falak
(mîqâtiyyûn:
penentu
waktu)
menamakan
gejala
timbulnya
beraneka
warna
pada
saat
itu
sebagai
masa
petang,
sebagai
tanda
masuknya
waktu
salat
Isya.
Pada
saat
petang
itu
muncul
sinar
cornetist
(kornetis)
yang
berbentuk
kerucut
dengan
alasnya
yang
berada
di
ufuk
barat.
Pada
musim
dingin,
sinar
kornetis
itu
akan
bertambah
panjang,
hingga
puncak
kerucut
itu
dapat
mencapai
azimut.
Pada
tengah
malam,
sinar
itu
muncul
pada
waktu
syuruk
mula-mula
seperti
kepala
puncak
kerucut
yang
semakin
lama
semakin
tinggi.
Alas
kerucut
itu
pun
semakin
melebar.
Setelah
itu,
ketika
matahari
berada
pada
posisi
18,5
derajat
di
bawah
ufuk
timur,
mulai
masuk
waktu
salat
Subuh.
Pada
saat
itu
mulai
muncul
lembayung
timur
secara
perlahan-lahan
dan
berlawanan
dengan
munculnya
lembayung
barat.
Apa
yang
diistilahkan
dengan
fajar
sidik
tidak
lain
merupakan
sinar
kornetis
yang
mencapai
tingkat
tertingginya
ketika
matahari
berada
pada
posisi
18,5
derajat
lebih
di
bawah
ufuk
timur.
Belakangan
ini
ditemukan
bahwa
matahari
mempunyai
lapisan
luar
yang
sangat
tipis
dan
melebar
sangat
jauh
sampai
hampir
menyentuh
atmosfer.
Lapisan
itulah
yang
menghasilkan
beraneka
warna
sinar
kornetis.
Gejala-gejala
yang
disebutkan
sebagai
contoh
tadi
akan
tampak
jelas
pada
saat
langit
tidak
berawan
dan
tidak
berangin
yang
mengandung
debu.
Apabila
langit
berawan,
yang
akan
muncul
adalah
warna
gelap.
Dan
apabila
awan
itu
mengandung
rintik
hujan--yang
dihasilkan
dari
perkawinan
proton
dan
neotron--ia
akan
berinteraksi
dengan
sinar
matahari.
Pada
gilirannya
akan
muncul
gejala
pelangi
dengan
aneka
warnanya
yang
indah.
Apabila
awan
itu
merupakan
selaput
yang
mengandung
biji-biji
kecil
berbentuk
kristal
segi
enam
yang
terbuat
dari
air
beku,
biji-biji
kristal
itu
akan
berinteraksi
dengan
sinar
matahari
sehingga
menimbulkan
refraksi
sinar
dari
permukaan
menuju
ke
dalam
untuk
kemudian
terefleksi
di
lapisan
dalam,
kemudian
teretraksi
kembali
ke
luar.
Pada
kondisi-kondisi
tertentu,
kita
akan
dapat
menyaksikan
korona
yang
berbentuk
lingkaran
besar
dan
berwarna
di
sekitar
matahari.
Di
tengah
kegelapan
malam,
akan
muncul
bintang-bintang
berkelap-kelip
di
kubah
langit
yang
tampak
seolah-olah
berjarak
tidak
jauh
dari
kita.
Pada
kenyataannya,
bintang-bintang
itu
berada
pada
kejauhan
bertahun-tahun
sinar
dari
kita.
Saat
itu,
di
kubah
langit
akan
terlihat
pula
planet-planet,
meteor
dan
bintang
berekor,
yang
juga
tampak
seolah-olah
dekat.
Bahkan
kita
hampir
tidak
merasakan
perbedaan
jaraknya.
Fenomena
ini
mengingatkan
kita
akan
makna
firman
Allah
Swt.
yang
berarti
"Dan
Kami
menjadikan
langit
sebagai
atap
yang
terjaga,
sedangkan
mereka
berpaling
dari
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
yang
terdapat
di
dalamnya"
(Q.,
s.
al-Anbiyâ':
32).
Dan,
seperti
telah
diterangkan
sebelumnya,
bahwa
selain
sinar
yang
muncul
dari
matahari
terdapat
juga
sinar
yang
muncul
dari
partikel-partikel
yang
terpancar
dari
kawasan
matahari
sangat
aktif
dan
membawa
aliran
listrik
dan
sinar
tajam
ultraviolet.
Partikel-partikel
itu
kemudian
berinteraksi
dengan
lapisan
atas
udara
dengan
terpengaruh
oleh
magnet
di
sekitar
bumi,
yang
pada
gilirannya
akan
mempengaruhi
sinar
utara
dan
selatan
hingga
tampak
berwarna
gelap
di
utara
bagaikan
tabir
warna
hijau
kemerah-merahan
yang
sangat
indah.
Gejala
ini
dapat
berlangsung
beberapa
jam
di
langit
utara
dan
dapat
disaksikan
pada
beberapa
malam
di
saat
matahari
berada
pada
titik
kulminasi
aktifitasnya.
Tabir
hijau
kemerah-merahan
itu
tidak
saja
dapat
disaksikan
di
belahan
utara
langit,
tetapi
juga
di
bagian
tengah
di
atas
daerah
katulistiwa.
Pada
awan
dan
udara
terdapat
aliran
listrik
yang
menghasilkan
kilat
dan
sinar
pada
beberapa
awan
yang
tinggi.
Beraneka
fenomena
dan
gejala
alam
itu
membuat
kita
menangkap
makna
firman
Allah
Swt.
yang
artinya
berbunyi
"Sesungguhnya,
dalam
penciptaan
langit
dan
bumi
dan
perbedaan
siang
dan
malam
benar-benar
terdapat
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
bagi
kaum
cerdik
cendekiawan."
Dari
situ
tampak
jelas
bahwa
perbedaan-
perbedaan
yang
terdapat
pada
berbagai
gejala
alam
adalah
sesuatu
yang
timbul
akibat
faktor
yang
tidak
mungkin
dicampurtangani
oleh
manusia.
Hanya
Allahlah
yang
menguasai
perberbedaan
siang
dan
malam.
Manusia
tidak
memiliki
kemampuan
apa-apa
untuk
mengendalikannya.
Allah,
dengan
ukuran
yang
tepat
dan
ketentuan
yang
pasti,
mempergilirkan
siang
dan
malam
yang
panjang
dan
pendeknya
pun
bervariasi
sepanjang
tahun.
]
[ وهو الذي يحيي ويميت وله اختلاف الليل والنهار أفلا تعقلون ] — المؤمنون 80
#4
Al-Nas
:6
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#5
Al-Nas
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#6
Al-Nas
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#9
Al-Nas
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#10
Al-Falaq
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#11
Al-Falaq
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#12
Al-Falaq
:3
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#13
Al-Falaq
:2
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#14
Al-Falaq
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#15
Al-Ikhlas
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#16
Al-Ikhlas
:3
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#17
Al-Ikhlas
:2
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#18
Al-Ikhlas
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#19
Al-Masadd
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#20
Al-Masadd
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei