Filter Results
Resultados: ( 1 para 2 de 2 )
(0,026 segundos)
#1
Al-Baqarah
:60
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Ingatlah,
wahai
Banû
Isrâ'îl,
hari
ketika
Mûsâ,
nabi
kalian,
memohonkan
air
kepada
Tuhannya
untuk
kalian
pada
saat
kalian
sangat
haus
di
padang
Tîh.
(1)
Kami
pun
mengasihi
kalian
dan
Kami
memfirmankan
kepada
Mûsâ,
"Pukullah
batu
itu
dengan
tongkatmu."
Kemudian
memancarlah
air
dari
dua
belas
mata
air,
sehingga
setiap
kelompok
memiliki
satu
mata
air.
Karena
mereka
berjumlah
dua
belas
kelompok,
maka
setiap
kabilah
bisa
mendapatkan
tempat
minum
mereka.
Kami
firmankan
kepada
kalian,
"Makanlah
mann
dan
salwâ,
minumlah
dari
air
yang
memancar
ini
dan
lupakanlah
apa
yang
pernah
kalian
lakukan.
Dan
janganlah
kalian
berlebih-lebihan
dalam
berbuat
kerusakan
di
bumi,
tetapi
tahanlah
diri
kalian
dari
perbuatan
maksiat."
{(1)
Padang
pasir
tempat
mereka
berkeliaran
dan
hidup
tidak
menentu
selama
empat
puluh
tahun
setelah
keluar
dari
negeri
Mesir.
}
]
[ وإذ استسقى موسى لقومه فقلنا اضرب بعصاك الحجر فانفجرت منه اثنتا عشرة عينا قد علم كل أناس مشربهم كلوا واشربوا من رزق الله ولا تعثوا في الأرض مفسدين ] — البقرة 60
#2
Al-Baqarah
:73
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Kemudian
Kami
berfirman
melalui
Mûsâ,
"Pukullah
mayat
itu
dengan
bagian
tubuh
sapi
ini."
Kalian
pun
lalu
melakukannya.
Allah
menghidupkan
mayat
itu
agar
menyebut
nama
orang
yang
membunuhnya
untuk
kemudian
jatuh
kembali
dan
mati.
Hal
ini
menjadi
mukjizat
Mûsâ
dari
Allah.
(1)
Karena
Allah
Mahakuasa
atas
segala
sesuatu,
maka
dengan
kekuasaan-Nya
inilah
Dia
menghidupkan
orang-orang
mati
pada
hari
kiamat.
Dia
menunjukkan
kepada
kalian
tanda-tanda
kekuasaan-Nya
agar
kalian
memikirkan
dan
mengambil
pelajaran
darinya.
{(1)
Beberapa
penulis
kontemporer,
di
antaranya
Syaikh
'Abd
al-Wahhâb
al-Najjâr,
mengatakan
bahwa
maksud
firman
Allah
"idlribûhu
bi
ba'dlihâ"
adalah
'pukullah
dengan
bagian
tubuh
orang
yang
mati'.
Sedang
maksud
"ihyâ'ihâ"
(menghidupkannya
kembali)
adalah
untuk
memberikan
kisas
kepada
si
pembunuh.
Sebab,
memukul
dengan
bagian
tubuh
si
terbunuh
akan
membuat
si
pembunuh
mengaku.
Pada
umumnya,
dengan
melihat
si
terbunuh,
seorang
pembunuh
akan
terdorong
untuk
mengakui
perbuatannya.
Kisah
ini
terpisah
dari
hal
penyembelihan
dan
perintah
Allah
untuk
penyembelihan
sapi.
Dan
sebenarnya
perintah
Allah
kepada
mereka
untuk
menyembelih
sapi
adalah
untuk
dimakan.
Dalam
hal
ini
terdapat
pendidikan
jiwa
bagi
mereka,
karena
sebelumnya
mereka
memuja
dan
mendewakan
sapi
bersama
orang-orang
Mesir.
Pada
diri
mereka
terdapat
sisa
pengultusan
itu
dengan
bukti
bahwa
mereka
setelah
itu
menyembah
patung
anak
sapi.
Maka,
untuk
menghilangkan
sisa-sisa
pengultusan
pada
mental
mereka,
mereka
diperintahkan
untuk
menyembelih
sapi.
Dari
sini
turunlah
perintah
untuk
menyembelih.
Dan,
karena
itu
pula,
terjadi
pertengkaran
di
antara
mereka.
Mereka
akhirnya
menyembelih
sapi
yang
diperintahkan
itu,
dan
hampir-hampir
mereka
tidak
melakukannya.
}
]
[ فقلنا اضربوه ببعضها كذلك يحيي الله الموتى ويريكم آياته لعلكم تعقلون ] — البقرة 73