Filter Results
Keputusan: ( 1 sehingga 2 daripada 2 )
(0.028 saat)
#1
Al-Muminoon
:71
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Seandainya
kebenaran
itu
mengikuti
keinginan
hawa
nafsu
mereka,
tentu
kerusakan
dan
kejahatan
akan
merajalela
di
muka
bumi
dan,
tentu,
keinginan
itu
akan
saling
bertentangan.
Akan
tetapi,
Kami
menurunkan
al-Qur'ân
kepada
mereka
yang
mengingatkan
pada
kebenaran
yang
diakui
oleh
semua
orang.
Tetapi,
meskipun
demikian,
mereka
tetap
menolaknya(1).
(1)
Kata
al-haqq
dalam
ayat
ini
termasuk
kata
homonim.
Kata
itu
dapat
berarti
'Allah
Swt.
'
seperti
tersebut
dalam
ayat
yang
berbunyi
Ta'âlâ
Allâh-u
al-Malik-u
al-Haqq
(Q.,
s.
Thâhâ:
114).
Dapat
juga
berarti
'al-Qur'ân'
seperti
tersebut
dalam
ayat
Innâ
arsalnâk-a
bi
al-haqq
(Q.,
s.
Fathir:
24),
atau
pengertian
agama
secara
umum,
termasuk
di
dalamnya
al-Qur'ân
dan
al-Hadits,
seperti
pada
ayat
yang
berbunyi
Wa
qul
jâ'a
al-haqq-u
wa
zahaq-a
al-bâthil
(Q.,
s.).
Tampaknya
makna
yang
paling
dekat
dengan
pengertian
ayat
ini
adalah
makna
pertama,
yaitu
bahwa
yang
dimaksud
dengan
kata
al-haqq
adalah
Allah
Swt.
Dengan
demikian,
maksud
ayat
ini
adalah
sebagai
berikut:
'Seandainya
ketetapan
Allah
berjalan
mengikuti
keinginan
dan
kehendak
hawa
nafsu
orang-orang
kafir,
tentu
tata
aturan
yang
melandasi
langit
dan
bumi
serta
makhluk-makhluk
lainnya
ini
tidak
akan
berjalan
dengan
baik.
Akan
tetapi,
Allah
memiliki
hikmah
yang
sangat
besar
dan
kekuasaan
yang
luar
biasa.
Ilmu-Nya
pun
meliputi
seluruh
makhluk-Nya.
Hikmah-Nya
terlaksana
berkat
pengaturan-
Nya
yang
sangat
akurat"
Adapun
keterangan
al-Qur'ân
bahwa
di
langit
terdapat
makhluk
hidup,
ini
mengisyaratkan
dua
hal.
Pertama,
kita
harus
mengimaninya
secara
apa
adanya,
dengan
penuh
keyakinan,
tanpa
membahas
perinciannya,
sampai
Allah
sendiri
yang
akan
menerangkan
maksudnya.
Hal
ini
sesuai
dengan
firman
Allah
yang
artinya
berbunyi
"Kami
akan
menunjukkan
kepada
mereka
tanda-
tanda
kekuasaan
kami
di
ufuk
(alam
raya,
cakrawala)
dan
di
dalam
diri
mereka
sendiri".
Kedua,
bahwa
kita
dituntut
untuk
selalu
melakukan
penelitian
sesuai
kemampuan
kita.
Sebab,
penemuan
fakta-fakta
ilmiah
baru
akan
semakin
memperkuat
keimanan
kita.
Dan
keimanan
adalah
sasaran
utama
yang
hendak
dicapai
surat
ini.
]
[ ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل أتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون ] — المؤمنون 71
#2
Yunus
:3
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Sesungguhnya
Tuhan
kalian,
wahai
manusia,
adalah
Allah
yang
menciptakan
langit
dan
bumi
serta
segala
yang
ada
di
dalamnya
dalam
waktu
enam
hari(1).
Tidak
ada
yang
mengetahui
panjangnya
enam
hari
itu
kecuali
Allah.
Kemudian
hanya
Dialah--dengan
keagungan
kekuasaan-Nya--yang
menguasai
dan
mengurus
hal
ihwal
makhluk-makhluk-Nya.
Tidak
ada
seorang
pun
yang
memiliki
kekuasaan
atas
sesuatu
bersama
Allah
dan
tidak
ada
seorang
pun
dari
makhluk-Nya
yang
dapat
memberi
syafaat
kepada
orang
lain,
kecuali
dengan
izin-Nya.
Itulah
Allah,
Sang
Pencipta.
Dialah
Tuhan
yang
mengendalikan
nikmat
untuk
kalian,
maka
sembahlah
Dia
semata,
benarkanlah
Rasul-Nya,
dan
berimanlah
kepada
kitab
suci-Nya.
Hendaklah
kalian
mengingat
nikmat
Allah
dan
merenungi
ayat-ayat
yang
menunjukkan
keesaan-Nya.
(1)
Allah
menciptakan
alam
semesta
dengan
segala
isinya
dalam
enam
tahapan.
Setiap
tahapan
itu
terdiri
atas
rentang
waktu
yang
cukup
panjang.
Tahapan-tahapan
yang
disebutkan
sebagai
enam
hari
itu
merupakan
tahap
penundukan
matahari,
bulan
dan
bintang-
bintang
untuk
keperluan
manusia.
Termasuk
dalam
tahapan
itu
juga
adalah
pergantian
siang
dan
malam
dan
timbulnya
siang
menggantikan
kegelapan
cakrawala.
Disebutnya
kata
"malam"
sebelum
kata
"siang"
disebabkan
karena
kegelapan
merupakan
asal
dan
pangkal.
Sedangkan
siang
timbul
akibat
tersebarnya
sinar
matahari
pada
lapisan
udara
bumi
yang
berotasi
dan
juga
karena
radiasi
matahari.
]
[ إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يدبر الأمر ما من شفيع إلا من بعد إذنه ذلكم الله ربكم فاعبدوه أفلا تذكرون ] — يونس 3