Filter Results
ഫലങ്ങള്: ( 1 വരെ 3 ന്റെ 3 )
(0.033 നിമിഷങ്ങള്)
#1
Ar-Rum
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[30
~
AR-RUM
(BANGSA
ROMAWI)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
60
ayat
~
Surat
ini
dimulai
dengan
menyebutkan
tentang
kekalahan
bangsa
Romawi
dan
janji
Allah
kepada
orang-orang
yang
beriman
bahwa
Dia
akan
menolong
mereka
dari
orang-orang
Persia.
Kemudian
menyeru
untuk
merenungkan
ciptaan
Allah
dan
berjalan
di
muka
bumi
agar
orang-orang
Mukmin
itu
mengetahui
kesudahan
orang-orang
kafir
yang
telah
memakmurkan
bumi
lebih
daripada
orang-orang
Quraisy.
Surat
ini
juga
menampakkan
keadaan
manusia
pada
hari
kiamat
dan
mengagungkan
perbuatan
orang-orang
Mukmin
yang
menyucikan
Allah
dan
menyembah
kepada-Nya
semata
pada
pagi,
malam,
siang
dan
sore
hari.
Di
samping
itu
juga
mengingatkan
pada
bukti-bukti
keesaan
Allah
berupa
pergantian
siang
dan
malam,
perbedaan
bahasa
serta
fenomena
alam
semesta
di
langit
dan
bumi.
Surat
ini
memberikan
perumpamaan
yang
menunjukkan
kebatilan
perbuatan
syirik
dan
mengingatkan
manusia
akan
penciptaan
mereka
dan
nikmat
Allah
kepada
mereka.
Selain
itu,
surat
ini
juga
menegaskan
sendi-sendi
keluarga
dan
masyarakat
dan
memperhatikan
tentang
penurunan
syariat,
sehingga
mengharamkan
riba
dan
mensyariatkan
zakat
serta
menyuruh
untuk
berbakti
kepada
kedua
orangtua.
Kemudian
Allah
menyebutkan
nikmat-Nya
atas
hamba-hamba-Nya
dan
menyeru
mereka
untuk
taat
beragama.
Dia
mengarahkan
pandangan
mereka
kepada
keajaiban-keajaiban
yang
ada
di
alam
semesta
yang
menunjukkan
kekuatan
dan
kekuasaan-Nya.
Dia
juga
menerangkan
tentang
perkembangan
manusia
sampai
mencapai
usia
senja.
Ayat-ayat
terakhir
pada
surat
ini
mengisyaratkan
tentang
hari
kiamat
dan
kekufuran
orang-orang
musyrik
kepadanya.
Kemudian
ditutup
dengan
nasihat
kepada
Rasulullah
untuk
selalu
tetap
dalam
kebenaran
dan
bersabar
atas
apa
yang
menimpanya,
karena
sesungguhnya
janji
Allah
pasti
akan
datang.]]
Alif,
Lâm,
Mîm.
Surat
yang
dimulai
dengan
ayat
ini
bermaksud
untuk
menjelaskan
bahwa
al-Qur'ân
terdiri
atas
huruf-huruf
yang
dapat
diucapkan
oleh
orang-orang
Arab
dengan
mudah
dan
jelas.
Meskipun
demikian,
orang-orang
yang
mengingkarinya
tidak
mampu
mendatangkan
sesuatu
yang
semisalnya.
Di
samping
itu,
huruf-huruf
ini
juga
menggugah
manusia
untuk
mendengarkan
dan
membawa
mereka
untuk
mempercayai
ajaran-ajaran
Nabi
Muhammad
saw
(1).
(1)
Ayat-ayat
1
sampai
4
surat
ini
mengisyaratkan
dua
peristiwa,
yang
pertama
benar-benar
telah
terjadi
dan
kedua
belum
terjadi.
Yang
kedua
ini
berupa
kabar
tentang
hal-hal
gaib
(dan
telah
ditentukan
terjadinya
di
antara
tiga
sampai
tujuh
tahun).
Perincian
peristiwa
pertama
bahwa
orang-orang
Persia
dan
Bezantium
bertikai
satu
sama
lain
dalam
suatu
pertempuran
di
negeri
Syam
pada
masa
Kisra
Abroiz
atau
Kisra
Dua,
Raja
Persia
yang
dikenal
di
kalangan
kaum
Arab
dengan
Kisra
dan
masa
Heraklius
Muda,
Kaisar
Romawi
yang
dikenal
di
kalangan
kaum
Arab
dengan
Heraql.
Pada
tahun
614,
Persia
menguasai
Anthakia,
kota
terbesar
di
bagian
timur
imperium
Romawi.
Kemudian
menguasai
Damaskus
dan
mengepung
kota
Bait
al-Maqdis,
sampai
kemudian
merebutnya,
membakarnya,
merampok
serta
membantai
penduduknya.
Api
melahap
gereja
al-Qiyâmah
dan
para
penyerang
itu
menguasai
Salib
dan
memindahkannya
ke
ibukota
mereka.
Hati
orang-orang
Nasrani
sangat
takut
dengan
bencana
yang
sangat
mengerikan
ini.
Dan
pada
saat
kekalahan
ini
menjadi
sumber
kegembiraan
bagi
orang-orang
musyrik
Mekkah
dan
penyebab
ejekan
mereka
kepada
orang-orang
muslim--karena
orang-orang
Romawi
adalah
Ahl
al-Kitâb
sebagaimana
sahabat-sahabat
Nabi
Muhammad
saw.,
dan
orang-orang
Persia
bukan
Ahl
al-Kitâb
seperti
orang-orang
musyrik--maka
Allah
menurunkan
ayat-ayat
yang
jelas
ini
kepada
Nabi
Muhammad
untuk
memberikan
kabar
gembira
kepada
mereka
dengan
kemenangan
Ahl
al-Kitâb
dan
kegembiraan
mereka,
dan
juga
dengan
kekalahan
orang-orang
musyrik
dan
kesudahan
mereka
yang
buruk
dalam
jangka
waktu
yang
telah
ditentukan
beberapa
tahun
setelahnya.
Perincian
kejadian
kedua
adalah
bahwa
Heraklius,
Kaisar
Romawi
dan
tentaranya
yang
telah
menderita
kekalahan,
belum
merasa
putus
asa
untuk
meraih
kemenangan.
Maka
dari
itu,
ia
segera
mempersiapkan
dirinya
untuk
pertempuran
yang
akan
menghapus
kehinaan
dari
kekalahannya.
Pada
tahun
622
M
(tahun
pertama
Hijriah),
ia
memaksa
Persia
untuk
melakukan
pertempuran
di
Armenia,
dan
kemenangan
ada
di
pihak
Romawi.
Kemenangan
ini
adalah
sebagai
pembukaan
dari
kemenangan-kemenangan
Romawi
selanjutnya
atas
Persia.
Begitulah
kemenangan
Ahl
al-Kitâb
atas
orang-orang
musyrik,
sehingga
terwujudlah
kabar
gembira
yang
dibawa
al-Qur'ân.
Dan
juga
terdapat
kejadian
ketiga
yang
dapat
dipahami
dari
konteks
ayat-ayat
ini
yang
menjadi
pembangkit
rasa
gembira
orang-orang
muslim,
yaitu
kemenangan
mereka
atas
orang-orang
musyrik
Quraisy
pada
Perang
Badar
yang
terjadi
pada
hari
Jumat,
17
Ramadan
tahun
2
Hijriah
atau
tahun
624
Masehi.
]
[ الم ] — الروم 1
#2
Al-Ankabut
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[29
~
AL-'ANKABUT
(LABA-LABA)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
69
ayat
~
Surat
yang
berisikan
69
ayat
ini
termasuk
dalam
golongan
surat
Makkiyyah,
kecuali
ayat
1
sampai
11
yang
merupakan
ayat-ayat
Madaniyah.
Surat
ini
dimulai
dengan
keterangan
bahwa
keimanan
orang-orang
Mukmin
harus
diuji
dengan
cobaan-cobaan
dan
berjihad
mempertahankan
negeri
kebenaran
dan
keimanan.
Manusia
telah
dipesankan
untuk
berbuat
baik
kepada
orangtuanya,
dan
juga
diperintahkan
untuk
berjihad,
sehingga
terkumpul
perintah
untuk
berbuat
baik
(ihsân)
dan
perintah
untuk
berjihad.
Di
dalamnya
juga
ada
keterangan
tentang
kelompok-kelompok
manusia
dari
segi
keimanannya.
Di
antara
mereka
ada
yang
mengaku,
dengan
lisannya,
telah
beriman
tetapi
hatinya
tidak
tunduk.
Kemudian
surat
ini
menuturkan
kisah
Nabi
Nûh
dan
jihadnya
di
antara
kaumnya,
juga
kisah
Nabi
Ibrâhîm
dalam
dakwahnya
serta
keterangan
tentang
bentuk
pelajaran
yang
diambil
oleh
Nabi
Muhammad.
Kemudian
dilanjutkan
dengan
keterangan
tentang
reaksi
kaum
Nabi
Ibrâhîm.
Setelah
itu
kisah
tentang
Nabi
Lûth
dan
kaumnya,
pengutusan
rasul-rasul
Allah
dari
jenis
malaikat
untuk
membinasakan
mereka,
dan
selamatnya
keluarga
Lûth
kecuali
istrinya.
Kemudian
diteruskan
dengan
memaparkan
kisah
Nabi
Syu'aib
dengan
penduduk
Madyan,
Nabi
Hûd
dengan
kaum
'Ad,
Nabi
Shâlih
dengan
kaum
Tsamûd,
kesombongan
Qârûn,
Fir'aun,
Hâmân
dan
akibat
dari
perbuatan
mereka.
Dalam
surat
ini
Allah
menjelaskan
bahwa
peribadatan
orang-orang
musyrik
kepada
berhala-berhala
sebenarnya
berasaskan
pada
alasan
yang
lebih
lemah
daripada
sarang
laba-laba.
Dan
perumpamaan
seperti
ini
tidak
akan
diketahui
kecuali
oleh
orang-orang
yang
menggunakan
akalnya.
Kemudian
Allah
memerintahkan
nabi-Nya
untuk
tidak
membantah
Ahl
al-Kitâb
kecuali
dengan
cara
yang
baik.
Setelah
itu
Allah
mengisyaratkan
bahwa
Rasulullah
adalah
seorang
yang
buta
huruf,
dan
hal
itu
merupakan
bukti
akan
kebenaran
ajaran-ajarannya.
Dalam
surat
ini
juga
disebutkan
tentang
sikap
keras
kepala
orang-orang
musyrik
yang
meminta
mukjizat
inderawi
yang
akan
mereka
ingkari,
sebagaimana
kaum
Mûsâ
mengingkarinya.
Juga
tentang
permintaan
mereka
untuk
segera
diturunkan
azab
kepada
mereka,
sedangkan
Allah
telah
menerangkan
kepada
mereka
apa
yang
mereka
hadapi.
Allah
menyebutkan
juga
tentang
balasan
orang-orang
Mukmin
dan
kafir
pada
hari
kiamat.
Setelah
itu,
perhatian
diarahkan
kepada
alam
semesta
dan
karunia-karunia
Allah
yang
ada
di
dalamnya,
dan
juga
disebutkan
tentang
nilai
dunia
jika
dibandingkan
dengan
akhirat.
Keadaan
orang-orang
musyrik
yang
lemah
dan
kebergantungan
mereka
kepada
Allah
ketika
mereka
merasa
takut,
dan
kekuatan
serta
kesyirikan
mereka
ketika
mereka
dalam
keadaan
aman
juga
disebutkan
dalam
surat
ini.
Selanjutnya
Allah
menerangkan
nikmat-Nya
kepada
mereka
di
Bait
al-Hârâm
serta
kekufuran
mereka
atas
nikmat
itu.
Terakhir
diterangkan
pula
tentang
keutamaan
para
mujahid.]]
Alif,
Lâm,
Mîm
adalah
huruf-huruf
fonemis
yang
digunakan
untuk
menerangkan
bahwa
al-Qur'ân,
sebagai
suatu
mukjizat,
terdiri
atsas
huruf-huruf
yang
dapat
mereka
ucapkan
dengan
baik,
di
samping
untuk
menarik
perhatian
orang-orang
yang
mendengarnya
serta
memalingkan
perhatian
mereka
kepada
kebenaran.
]
[ الم ] — العنكبوت 1
#3
Al-Furqan
:38
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Demikian
pula
Kami
telah
menghancurkan
'Ad,
Tsamûd
dan
penduduk
al-Rass(1)
tatkala
mereka
mendustakan
rasul-rasul
mereka.
Kami
juga
telah
menghancurkan
banyak
kaum
yang
hidup
di
antara
masa
kaum
Nûh
dan
'Ad.
Mereka
mendapat
balasan
sebagaimana
orang-orang
yang
zalim.
(1)
Al-Rass,
seperti
disebutkan
dalam
Al-Mufradât
karya
al-Râghib
al-Ashfahânî,
berarti
'lembah'.
Al-Ashfahânî
berdalil
dengan
sepnggal
bait
syair:
wa
hunna
al-wâdî
al-rass
ka
al-yad
li
al-fam.
Penduduk
al-Rass
yang
disebutkan
pada
ayat
di
atas
adalah
kaum
yang
selalu
menyembah
patung.
Kemudian
Allah
mengutus
kepada
mereka
Nabi
Syu'aib
a.
s.
Di
dalam
al-Qur'ân,
kaum
Syu'aib
terkadang
disebut
sebagai
penduduk
Aykah,
yang
berarti
tempat
yang
dipenuhi
pepohonan
yang
rindang.
Terkadang
disebut
juga
dengan
penduduk
al-Rass,
yaitu
sebuah
lembah
yang
banyak
mengandung
kebaikan.
Hal
itu
menunjukkan
banyaknya
nikmat
Allah
yang
diberikan
kepada
mereka.
Tapi
mereka
mengingkarinya
dan
menyembah
patung.
]
[ وعادا وثمود وأصحاب الرس وقرونا بين ذلك كثيرا ] — الفرقان 38