Filter Results
結果: ( 1 に 3 の 3 )
(0.027 秒)
#1
Az-Zukhruf
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[43
~
AZ-ZUKHRUF
(PERHIASAN)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
89
ayat
~
Surat
ini
diawali
dengan
dua
huruf
eja
seperti
gaya
al-Qur'ân
dalam
mengawali
beberapa
surat
lainnya.
Disebutkan,
setelah
itu,
mengenai
al-Qur'ân
dan
kedudukanya
di
sisi
Allah,
dan
keterangan
mengenai
sikap
orang-orang
yang
mencemoohkan
misi
yang
dibawa
oleh
para
rasul,
yang
kemudian
diikuti
dengan
pemaparan
beberapa
bukti
yang
mengharuskan
kita
beriman
hanya
kepada
Allah.
Tetapi,
kendati
bukti-bukti
itu
demikian
banyak
dan
jelas,
mereka
tetap
saja
mengakui
adanya
tuhan-tuhan
lain--yang,
tentu
saja,
palsu--selain
Allah.
Mereka
beranggapan
bahwa
Allah
memiliki
anak-anak
perempuan
sedang
mereka
memiliki
anak
laki-laki.
Dan
ketika
mereka
tak
lagi
menemukan
alasan
yang
membenarkan
anggapan
itu,
mereka
berdalih
bahwa
hal
itu
adalah
tradisi
leluhur
yang
harus
dipegang
teguh.
Pada
bagian
lain,
surat
ini
berbicara
tentang
kisah
Nabi
Ibrâhîm
a.
s.
yang
kemudian
dilanjutkan
dengan
anggapan
orang-orang
kafir
Mekah
bahwa
al-Qur'ân
terlalu
besar
untuk
diturunkan
kepada
seorang
Muhammad.
Semestinya,
menurut
mereka,
al-Qur'ân
hanya
pantas
diturunkan
kepada
salah
seorang
pembesar
Mekah
atau
Thaif.
Dengan
begitu,
mereka
seolah-olah
membagi-bagikan
karunia
Allah
sekehendak
mereka.
Padahal
Allah
sendiri
telah
membagi-bagikan
rezeki-Nya
untuk
penghidupan
mereka
di
dunia
karena
mereka
memang
tidak
mampu
melakukan
itu.
Surat
ini
kemudian
menyatakan
bahwa
andai
bukan
karena
Tuhan
tidak
ingin
kalau
semua
manusia
menjadi
kafir,
tentu
orang-orang
kafir
telah
diberi
seluruh
kenikmatan
dan
kemewahan
dunia.
Dijelaskan
pula,
kemudian,
bahwa
siapa
saja
yang
menentang
kebenaran
maka
Allah
akan
menjadikan
setan
menguasai
dirinya
lalu
membawanya
ke
lembah
kehancuran.
Selanjutnya,
surat
ini
juga
mengetengahkan
kisah
Nabi
Mûsâ
bersama
Fir'aun
dan
kaumnya
yang
sangat
sombong
dan
arogan
dengan
kekuasaannya.
Suatu
sikap
yang
kemudian
justru
mendatangkan
balasan
Allah
kepada
mereka.
Kisah
tentang
Mûsâ
ini
kemudian
dilanjutkan
dengan
penjelasan
tentang
'Isâ
putra
Maryam
yang
merupakan
seorang
hamba
yang
mendapat
karunia
dari
Allah
dan
menyeru
kepada
jalan
yang
lurus.
Setelah
dipaparkan
peringatan
bagi
orang-orang
zalim
berupa
siksaan,
dan
kabar
gembira
bagi
orang-orang
Mukmin
berupa
surga
kelak
pada
hari
kiamat,
surat
ini
ditutup
dengan
penjelasan
betapa
luasnya
kerajaan
Allah
dan
betapa
tidak
mampunya
tuhan-tuhan
palsu
yang
mereka
persekutukan
dengan-
Nya.
Dalam
hal
ini,
Nabi
Muhammad
saw.
diperintahkan
untuk
mengucapkan
"salam
perpisahan"
kepada
mereka,
agar
mereka
mengetahui.]]
Hâ,
mîm.
Surat
ini
dibuka
dengan
menyebut
dua
huruf
fonemis
yang
merupakan
gaya
al-Qur'ân
dalam
mengawali
beberapa
suratnya.
]
[ حم ] — الزخرف 1
#2
Al-Fajr
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[89
~
AL-FAJR
(FAJAR)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
30
ayat
~
Surat
ini
dimulai
dengan
sejumlah
sumpah
demi
beberapa
gejala
alam
yang
bertujuan
untuk
mengarahkan
perhatian
kepada
sejumlah
bukti
kekuasaan
Allah
yang
menunjukkan
bahwa
orang-orang
yang
ingkar
kepada
Allah
dan
kebangkitan
akan
mendapat
siksa
seperti
orang-orang
sebelum
mereka
yang
juga
mendustakannya.
Setelah
itu,
dalam
surat
ini
diutarakan
pula
ketetapan
dan
sunnatullâh
untuk
menguji
hamba-hamba-Nya,
dengan
ujian
yang
baik
maupun
yang
buruk.
Diutarakan
pula
bahwa
jika
Allah
memberikan
karunia
kepada
seseorang
dan
tidak
memberikannya
kepada
orang
lain,
hal
itu
tidak
serta
merta
menunjukkan
perkenan
dan
kemurkaan
Allah.
Kemudian
pembicaraan
diarahkan
kepada
orang-orang
yang
menjadi
sasaran
surat
ini,
bahwa
keadaan
mereka
menunjukkan
bahwa
mereka
sangat
tamak
dan
kikir.
Surat
ini
kemudian
diakhiri
dengan
isyarat
tentang
penyesalan
orang-orang
yang
melampaui
batas
dan
angan-angan
mereka
seandainya
mereka
dahulu
melakukan
perbuatan-perbuatan
baik
yang
dapat
menyelamatkan
dan
menolong
diri
mereka
dari
kedahsyatan
bencana
hari
kiamat.
Juga
tentang
kelembutan
yang
diterima
oleh
jiwa
yang
tenang,
yang
telah
mengerjakan
perbuatan-perbuatan
baik
dan
tidak
melampaui
batas,
dan
juga
panggilan
untuk
masuk
ke
dalam
golongan
hamba-hamba
Allah
yang
mendapatkan
penghormatan
di
dalam
surga-Nya.]]
Aku
bersumpah
demi
cahaya
pagi
ketika
mulai
mengusir
gelap
malam.
]
[ والفجر ] — الفجر 1
#3
Al-Baqarah
:189
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Suatu
kaum
bertanya
kepadamu,
Muhammad,
tentang
bulan
sabit,
yang
mulanya
tampak
tipis
seperti
benang
kemudian
lambat
laun
makin
membesar
hingga
sempurna.
Setelah
itu
ia
pun
perlahan-lahan
mengecil
kembali
hingga
tampak
seperti
semula.
Hal
ini
berbeda
dengan
matahari
yang
tidak
berubah-ubah.
Apa
gerangan
hikmah
di
balik
itu
sehingga
setiap
bulan
muncul
sabit
baru?
Katakan
kepada
mereka,
wahai
Muhammad,
"Berulang-ulangnya
kemunculan
bulan
sabit
dan
perubahan
yang
terjadi
itu,
selain
mengandung
hikmah,
juga
untuk
kemaslahatan
agama
dan
kehidupan
keseharianmu.
Di
samping
untuk
menentukan
waktu-waktu
keseharianmu,
ia
juga
menentukan
waktu
pelaksanaan
haji
yang
merupakan
salah
satu
sokoguru
agamamu.
(1)
Kalaulah
bulan
sabit
itu
tidak
berubah-ubah
sebagaimana
halnya
matahari,
tentu
kamu
tidak
dapat
menentukan
waktu-waktu
tersebut.
Tetapi
ketidaktahuanmu
tentang
hikmah
perubahan
bulan
sabit
itu
tidak
semestinya
membuat
kamu
ragu
akan
adanya
Sang
Maha
Pencipta.
Dan
bukanlah
termasuk
kebaktian
memasuki
rumah
dari
arah
belakang,
suatu
tindakan
yang
menyalahi
kebiasaan.
Tetapi
kebaktian
adalah
ketakwaan
dan
keikhlasan,
memasuki
rumah
melalui
pintu-pintunya
sebagaimana
dilakukan
setiap
orang,
dan
mencari
kebenaran
dengan
mengikuti
dalil
yang
argumentatif.
Maka
mohonlah
perkenan
Allah,
takutlah
akan
siksa-Nya
dan
mintalah
keselamatan
dari
siksa
api
neraka."
{(1)
Bulan
memantulkan
sinar
matahari
ke
arah
bumi
dari
permukaannya
yang
tampak
dan
terang,
hingga
terlihatlah
bulan
sabit.
Apabila,
pada
paruh
pertama,
bulan
berada
pada
posisi
di
antara
matahari
dan
bumi,
bulan
itu
menyusut,
yang
berarti
bulan
sabit
baru
muncul
untuk
seluruh
penduduk
bumi.
Dan
apabila
berada
di
arah
berhadapan
dengan
matahari,
ketika
bumi
berada
di
tengah,
akan
tampak
bulan
purnama.
Kemudian,
purnama
itu
kembali
mengecil
sedikit
demi
sedikit
sampai
kepada
paruh
kedua.
Dengan
begitu,
sempurnalah
satu
bulan
komariah
selama
29,5309
hari.
Atas
dasar
itu,
dapat
ditentukan
penanggalan
Arab,
sejak
munculnya
bulan
sabit
hingga
tampak
sempurna.
Bila
bulan
sabit
itu
tampak
seperti
garis
tipis
di
ufuk
barat,
kemudian
tenggelam
beberapa
detik
setelah
tenggelamnya
matahari,
dapat
dilakukan
ru'yah
terhadap
bulan
baru.
Dengan
cara
demikian
dapat
ditentukan
dengan
mudah
penanggalan
bulan
komariah.
Perputaran
bulan
itulah
yang
mengajarkan
manusia
cara
penghitungan
bulan,
termasuk
di
antaranya
bulan
haji.
}
]
[ يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى وأتوا البيوت من أبوابها واتقوا الله لعلكم تفلحون ] — البقرة 189