Filter Results
Sonuçlar: ( 1 - 2 | 2 )
(0,021 saniye)
#1
Al-Kahf
:16
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
"Selama
kita
memilih
jalan
mengasingkan
diri
dari
kaum
yang
mengingkari
dan
menyekutukan
Allah,"
kata
sebagian
mereka
kepada
yang
lainnya,
"maka
berlindunglah
di
dalam
sebuah
gua
demi
keselamatan
agama
kalian.
Tuhan
kalian
pasti
akan
menurunkan
karunia
pengampunan
dan
memberikan
kemudahan
dengan
menyediakan
apa
saja
yang
bermanfaat(1)
bagi
kalian
untuk
mempertahankan
hidup.
(1)
Sampai
saat
ini
belum
didapatkan
suatu
informasi
akurat
siapa
sebenarnya
penghuni
gua
itu,
kapan
dan
di
mana
gua
tersebut
berada.
Namun
demikian,
akan
dicoba
paparkan
di
sini
sedikit
keterangan
menyangkut
kisah
yang
dituturkan
ayat-ayat
di
atas.
Berangkat
dari
isyarat
al-Qur'ân
yang
menyatakan
bahwa
mereka
adalah
sekelompok
pemuda
yang
beriman
kepada
Allah,
dapat
ditarik
kesimpulan
bahwa
mereka
tengah
mengalami
penindasan
agama
yang
menyebabkan
mereka
mengasingkan
diri
ke
dalam
sebuah
gua
yang
tersembunyi.
Sementara
itu,
sejarah
kuno
mencatat
adanya
beberapa
masa
penindasan
agama
di
kawasan
Timur
Kuno
yang
terjadi
dalam
kurun
waktu
yang
berbeda.
Dari
beberapa
peristiwa
penindasan
agama
itu
hanya
ada
dua
masa
yang
kita
anggap
penting,
yang
salah
satunya
barangkali
mempunyai
kaitan
dengan
kisah
penghuni
gua
ini.
Peristiwa
pertama
terjadi
pada
masa
kekuasaan
raja-raja
Saluqi,
saat
kerajaan
itu
diperintah
oleh
Raja
Antiogos
IV
yang
bergelar
Nabivanes
(tahun
176-84
S.
M).
Pada
saat
penaklukan
singgasana
Suriah,
Antiogos--yang
juga
dikenal
sangat
fanatik
terhadap
kebudayaan
dan
peradaban
Yunani
Kuno--mewajibkan
kepada
seluruh
penganut
Yahudi
di
Palestina,
yang
telah
masuk
dalam
wilayah
kekuasaan
Suriah
sejak
198
S.
M.,
untuk
meninggalkan
agama
Yahudi
dan
menganut
agama
Yunani
Kuno.
Antiogos
mengotori
tempat
peribadatan
Yahudi
dengan
meletakkan
patung
Zeus,
Tuhan
Yunani
terbesar,
di
atas
sebuah
altar
dan
pada
waktu-waktu
tertentu
mempersembahkan
korban
berupa
babi
bagi
Zeus.
Terakhir,
Antiogos
membakar
habis
naskah
Tawrât
tanpa
ada
yang
tersisa.
Berdasarkan
bukti
historis
ini,
dapat
disimpulkan
bahwa
pemuda-pemuda
itu
adalah
penganut
agama
Yahudi
yang
bertempat
tinggal
di
Palestina,
atau
tepatnya
di
kota
Yarussalem.
Dapat
diperkirakan
pula,
bahwa
peristiwa
bangunnya
mereka
dari
tidur
panjang
itu
terjadi
pada
tahun
126
M.
setelah
Romawi
menguasai
wilayah
Timur,
atau
445
tahun
sebelum
masa
kelahiran
Rasulullah
saw.
tahun
571
M.
Peristiwa
penindasan
agama
yang
sama
terjadi
pada
zaman
imperium
Romawi,
saat
Kaisar
Hadrianus
berkuasa
(tahun
117-138
M).
Kaisar
Hadrianus
memperlakukan
orang-orang
Yahudi
sama
persis
seperti
yang
pernah
dilakukan
oleh
Antiogos.
Pada
tahun
132
M.,
pembesar-pembesar
Yahudi
mengeluarkan
ultimatum
bahwa
seluruh
rakyat
Yahudi
akan
berontak
melawan
kekaisaran
Romawi.
Mereka
memukul
mundur
garnisun-garnisun
Romawi
di
perbatasan
dan
berhasil
merebut
Yerussalem.
Peristiwa
bersejarah
ini
diabadikan
oleh
orang-orang
Yahudi
dalam
mata
uang
resmi
mereka.
Selama
tiga
tahun
penuh
mereka
dapat
bertahan.
Terakhir,
Hadrianus
bergerak
bersama
pasukannya
menumpas
pemberontak-pemberontak
Yahudi.
Palestina
jatuh
dan
Yerussalem
dapat
direbut
kembali.
Etnis
Yahudi
pun
dibasmi
dan
pemimpin-pemimpin
mereka
dibunuh.
Orang-orang
Yahudi
yang
masih
hidup
dijual
di
pasar-pasar
sebagai
budak.
Simbol-
simbol
agama
Yahudi
dihancurkan,
ajaran
dan
hukum-hukum
Yahudi
dihapus.
Dari
penuturan
sejarah
ini
didapat
kesimpulan
yang
sama
bahwa
para
pemuda
itu
adalah
penganut
ajaran
Yahudi.
Tempat
tinggal
mereka
bisa
jadi
berada
di
kawasan
Timur
Kuno
atau
di
Yerussalem
sendiri.
Masih
mengikuti
alur
sejarah
ini,
mereka
diperkirakan
bangun
dari
tidur
panjang
itu
kurang
lebih
pada
tahun
435
M.,
30
tahun
menjelang
kelahiran
Rasulullah
saw.
Tampaknya
peristiwa
pertama
lebih
mempunyai
kaitan
dengan
kisah
Ashhâb
al-Kahf
karena
penindasan
mereka
lebih
sadis.
Adapun
penindasan
umat
Kristiani
tidak
sesuai
dengan
kelahiran
Nabi
Muhammad
saw.
]
[ وإذ اعتزلتموهم وما يعبدون إلا الله فأووا إلى الكهف ينشر لكم ربكم من رحمته ويهيئ لكم من أمركم مرفقا ] — الكهف 16
#2
Al-Anfal
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[8
~
AL-ANFAL
(HARTA
RAMPASAN
PERANG)
Pendahuluan:
Madaniyyah,
75
ayat
~
Surat
al-Anfâl
diturunkan
di
Madinah
dan
terdiri
atas
75
ayat.
Dalam
surat
ini
Allah
memaparkan
penjelasan
sebagian
hukum
dan
latar
belakang
perang.
Diketengahkan
pula
faktor-faktor
pembawa
kemenangan
dan
peran
strategis
kekuatan
spiritual,
juga
diterangkan.
Allah
juga
menjelaskan
pula
hukum
harta
rampasan
perang
dan
tawanan.
Dalam
surat
ini
tampak
dengan
jelas
perpaduan
hukum
dan
hikmah
Allah
saat
menuturkan
secara
rinci
peristiwa
perang
Badar,
latar
belakang
dan
persoalan-
persoalan
pascaperang,
dan
pemicu
perang,
sebagaimana
disimpulkan
dalam
surat,
ini
disebabkan
tindakan
pengusiran
terhadap
nabi
oleh
orang-orang
musyrik
dari
Mekah.
Allah
menjelaskan
pula
dalam
surat
itu
persiapan-persiapan
yang
mesti
dilakukan
sebelum
perang
dan
kewajiban
menerima
perjanjian
damai
jika
pihak
musuh
menghendaki.
Surat
al-Anfâl
ditutup
dengan
uraian
masalah
yang
berkaitan
dengan
perwalian
antar
sesama
orang
Mukmin,
dan
penjelasan
hukum
yang
mewajibkan
orang-orang
Mukmin
untuk
berhijrah
dari
bumi
penindasan
untuk
berjuang
bersama
saudara-saudara
seiman
demi
kejayaan
Islam
dan
umatnya.]]
Bermula
dari
makar
dan
rencana
jahat
orang-orang
musyrik
untuk
membunuh
Rasulullah
saw.,
Allah
memerintahkan
Rasul-Nya
itu
berhijrah
meninggalkan
kota
suci
Mekah
menuju
Madinah
sebagai
bumi
tempat
tinggal
selamanya.
Di
bumi
kemenangan
itulah
nantinya
orang-orang
Muslim
membangun
suatu
negara
yang
berdaulat.
Bertolak
dari
realitas
seperti
itu,
tidak
ada
alasan
lain
kecuali
berjihad
menentang
tirani,
penindasan
dan
fitnah.
Maka
pecahlah
perang
Badar
Besar
(Badar
Pertama).
Pada
peperangan
itu,
kemenangan
yang
gemilang
ada
di
pihak
orang-orang
Mukmin.
Harta
rampasan
pun
cukup
banyak.
Melimpahnya
harta
rampasan
perang
itu
sempat
mengundang
perbedaan
pendapat
menyangkut
persoalan
pembagiannya.
Lalu
mereka
bertanya
kepadamu,
Muhammad,
tentang
harta
rampasan
perang:
akan
dikemanakan,
untuk
siapa
dan
bagaimana
cara
membaginya.
Katakan
kepada
mereka,
"Mula-mula
harta
yang
kalian
dapatkan
dari
berperang
itu
adalah
hak
milik
Allah
dan
Rasul-Nya,
yang
selanjutnya
mendapat
perintah
dari
Allah
untuk
membagikannya.
Tidah
usah
kalian
berbeda
pendapat
menyangkut
persoalan
harta
itu,
cukuplah
kalian
menjadikan
rasa
takut
dan
taat
pada
Allah
sebagai
simbol
kebanggaan
kalian.
Berusahalah
untuk
selalu
mengadakan
perbaikan
di
antara
kamu
sekalian
dan
jadikanlah
jiwa
cinta
kasih
dan
keadilan
sebagai
asas
tali
persaudaraan,
karena
hal
yang
demikian
itu
merupakan
sifat
orang-orang
beriman."
]
[ يسألونك عن الأنفال قل الأنفال لله والرسول فاتقوا الله وأصلحوا ذات بينكم وأطيعوا الله ورسوله إن كنتم مؤمنين ] — الأنفال 1