Filter Results
Sonuçlar: ( 1 - 1 | 1 )
(0,040 saniye)
#1
Al-Ahzab
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[33
~
AL-AHZAB
(PASUKAN
GABUNGAN)
Pendahuluan:
Madaniyyah,
73
ayat
~
Surat
al-Ahzâb
diawali
dengan
perintah
Allah
kepada
Nabi
Muhammad
saw.
untuk
bertakwa
dan
bertawakal
kepada
Allah,
lalu
beralih
ke
pembicaraan
tentang
status
anak
angkat.
Allah
menafikan
pemberian
status
anak
pada
anak-anak
angkat
itu
oleh
orangtua
angkatnya.
Ayat
selanjutnya
menjelaskan
hak-hak
Rasulullah
saw.
untuk
ditaati
dan
dicinta,
dan
hak-hak
istri
Rasulullah
untuk
dihormati
dan
dimuliakan.
Dalam
surat
ini
dipaparkan
pula
janji
para
nabi
kepada
Allah
untuk
menyampaikan
pesan-
pesan
suci
Allah.
Selain
itu,
surat
ini
juga
mengangkat
perincian
perang
Ahzâb
yang
sempat
memunculkan
ketakutan
dan
kegoncangan
luar
biasa
di
kalangan
kaum
muslimin.
Perang
itu
berakhir
dengan
kemenangan
orang-orang
beriman
sebagai
perwujudan
janji
Allah.
Di
samping
itu,
surat
ini
menyebutkan
beberapa
adab
sopan
santun
yang
harus
dilakukan
oleh
istri-istri
Rasulullah
saw.
Pembicaraan
kemudian
kembali
ke
topik
anak
angkat.
Dalam
surat
ini
ditemukan
penghapusan
tradisi
larangan
kawin
bagi
orangtua
angkat
dengan
bekas
istri
anak
angkatnya.
Sebuah
tradisi
yang
telah
mengakar
di
zaman
Jahiliah.
Berkaitan
dengan
Nabi
Muhammad
sendiri,
al-Qur'ân
memberikan
pujian
dan
sanjungan
kepadanya
sebagai
orang
yang
pantas
mendapat
pujian.
Al-Qur'ân
berpesan
kepada
nabi
agar
memisahkan
istri
yang
dicerai
sebelum
terjadi
hubungan
suami-istri,
dengan
cara
yang
baik.
Juga
agar
memberikan
hak
mut'ah
kepadanya.
Dijelaskan
pula
bahwa
Rasulullah
memiliki
keistimewaan
hukum:
boleh
mengawini
wanita
mana
saja
yang
menghibahkan
diri
kepadanya.
Disebutkan
pula
dengan
jelas
bahwa
Rasulullah
tidak
boleh
kawin
dengan
lebih
dari
sembilan
wanita.
Ayat-ayat
lain
berisi
penjelasan
tentang
aturan
dan
etika
yang
harus
dipegang
teguh
saat
berkunjung
dan
meninggalkan
rumah
kediaman
nabi,
termasuk
di
dalamnya
etika
bertanya
kepada
para
istri
Nabi.
Dalam
surat
ini
pula
al-Qur'ân
memerintahkan
istri-istri
nabi
untuk
memperhatikan
etika
pribadi
dengan
mengharuskan
mereka
memanjangkan
jilbab
yang
mereka
kenakan.
Selebihnya,
surat
al-Ahzâb
juga
mengangkat
topik
pembicaraan
tentang
hari
kiamat
dan
peristiwa-peristiwa
dahsyat
yang
terjadi
pada
hari
itu.
Di
akhir
surat
dijelaskan
kewajiban
keagamaan
yang
diembankan
oleh
Allah
kepada
manusia
yang
sebelumnya
ditolak
oleh
bumi
dan
gunung.
Secara
ringkas,
sasaran
terpenting
yang
ingin
dicapai
oleh
surat
al-Ahzâb,
antara
lain,
adalah:
1)
Mengangkat
masalah
adopsi
dengan
maksud
meralat
tradisi
Jahiliah
yang
melarang
bapak
angkat
untuk
mengawini
bekas
istri
anak
angkatnya.
2)
Realisasi
janji
Allah
yang
akan
memberikan
kemenangan
bagi
orang-orang
Mukmin
atas
orang-orang
kafir.
3)
Perincian
hukum
menyangkut
etika
orang-orang
beriman
dalam
mengunjungi
rumah
Rasulullah,
larangan
mengawini
wanita
bekas
istri
Rasulullah
dan
penjelasan
etika
khusus
bagi
istri-istri
Rasul.]]
Wahai
Nabi,
tingkatkanlah
ketakwaanmu
pada
Allah.
Jangan
berkompromi
untuk
menerima
pendapat
orang-orang
kafir
dan
orang-orang
munafik.
Allah
Maha
Meliputi--dengan
ilmu-Nya--segala
sesuatu;
Mahabijaksana
dalam
perkataan
dan
perbuatan-Nya.
]
[ يا أيها النبي اتق الله ولا تطع الكافرين والمنافقين إن الله كان عليما حكيما ] — الأحزاب 1