Filter Results
ഫലങ്ങള്: ( 1 വരെ 1 ന്റെ 1 )
(0.023 നിമിഷങ്ങള്)
#1
Al-Muminoon
:80
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Dia
pula
yang
menghidupkan
dan
mematikan
sesuatu.
Atas
perintah
dan
ketentuan
hukum-Nya,
siang
dan
malam
datang
silih
berganti
dengan
jarak
jurasi
yang
berbeda-beda.
Tidakkah
kalian
memikirkan
bukti
kemahakuasaan-Nya
dan
memahami
kewajiban
beriman
kepada-Nya
dan
kepada
hari
kebangkitan?(1).
(1)
Dalam
al-Qur'ân
banyak
ditemukan
ayat-ayat
yang
berbicara
mengenai
gejala
siang
dan
malam.
Hal
itu
menunjukkan
bahwa
Allah
Swt.
mengingatkan
umat
manusia
akan
begitu
dalamnya
arti
yang
dikandung
dalam
siang
dan
malam
sebagai
gejala
alam,
dan
mendorong
para
cendekiawan
untuk
berpikir
dan
mengadakan
penelitian.
Perbedaan
siang
dan
malam
ini
menimbulkan
dua
hal:
perbedaan
waktu
panjang
pendeknya
(jurasi),
dan
perbedaan
dalam
beberapa
gejala
alam
yang
dapat
dilihat.
Pertama,
perbedaan
jurasi.
Siang
adalah
suatu
masa
yang
dimulai
dengan
menyingsingnya
fajar
sampai
terbenamnya
matahari
di
ufuk
barat,
hingga
seolah
menyentuh
permukaan
bumi,
seperti
yang
kita
saksikan
sehari-hari,
padahal
sebenarnya
pinggir
atas
matahari
tidak
berada
di
ufuk.
Itu
terjadi
karena
sinar
yang
terpancar
itu
melengkung
pada
saat
refraksi
ketika
sinar
sedang
berjalan
pada
lapisan-lapisan
udara
sampai
tiba
kepada
penglihatan
kita.
Dengan
demikian,
ia
tampak
seolah-olah
berada
di
ufuk.
Tepian
itu
sebenarnya
bearada
di
bawah
ufuk
sekitar
35
menit
lengkung.
Sedangkan
malam,
adalah
suatu
masa
yang
merupakan
kelanjutan
siang.
Jumlah
masa
siang
dan
malam
sama
dengan
satu
masa
rotasi
bumi
pada
porosnya
dari
barat
sampai
ke
timur.
Antara
siang
dan
malam
terdapat
dua
masa,
yaitu
masa
remang
barat
dan
masa
remang
timur.
Panjang
jurasi
siang
berbeda
dari
satu
tempat
ke
tempat
lain
dan
tergantung
pada
musim.
Begitu
juga
bahwa
jurasi
malam,
waktu-waktu
salat
dan
puasa
ditentukan
berdasarkan
posisi
bola
matahari
terhadap
ufuk.
Kedua,
perbedaan
dalam
beberapa
gejala
alam.
Gejala-gejala
itu
bermacam-macam
bentuknya
yang
muncul
akibat
interaksi
antara
sinar
matahari--dengan
kandungan
sinar
positif,
visibel
dan
takvisibel--dengan
partikel-partikel
yang
mengalirkan
listrik,
atmosfer,
permukaan
laut
dan
sahara,
dan
seterusnya.
Selain
itu,
gejala
itu
dapat
pula
berbentuk
gerhana
matahari,
gerhana
bulan,
bintang,
bintang
berekor,
planet
dan
meteor
yang
pada
siang
hari
tidak
tampak
karena
tertutup
oleh
sinar
matahari
yang
sangat
terang.
Letak
perbedaan
paling
menonjol
antara
siang
dan
malam
adalah
adanya
cahaya
pada
siang
hari
yang
disebabkan
oleh
pancaran
sinar
langsung
matahari
yang
jatuh
pada
atmosfer
yang
terdiri
atas
molekul-molekul
dan
mengandung
atom-atom
debu.
Sinar
itu
kemudian
terefleksi
dan
terpancar
ke
seluruh
penjuru.
Pada
saat
udara
cerah,
atom-atom
debu
sangat
kecil
dan
posisi
bola
matahari
sangat
tinggi
di
atas
ufuk,
yang
akan
terpancar
dan
tampak
oleh
mata
adalah
warna
biru.
Langit
pun
akan
tampak
biru.
Tetapi,
pada
saat
matahari
terbit
atau
terbenam,
ufuk
akan
tampak
berwarna
oranye
dan
perlahan-lahan
menjadi
merah.
Cahaya
biru
yang
terpancar
hanya
tampak
sedikit
sekali.
Oleh
karena
itu,
langit
pun
berwarna
biru
kegelapan.
Pada
saat
matahari
terbenam
di
ufuk
[barat],
kita
dapat
menyaksikan
warna
hijau
di
lapisan
atasnya
selama
satu
detik
atau
kurang.
Gejala
ini
disebut
"kilauan
hijau"
yang
mudah
dilihat
di
atas
permukaan
laut,
di
balik
puncak
gunung
atau
di
balik
dinding
rumah.
Gejala
ini
timbul
akibat
inklinasi
cahaya
matahari
yang
menyebabkan
larutnya
visi
matahari
menjadi
beberapa
warna,
termasuk
warna
hijau
ini.
Singkatnya,
sinar
matahari
mengandung
beberapa
warna,
visibel
dan
takvisibel,
yang
masing-masing
berbeda
panjang
gelombangnya.
Gelombang-gelombang
itu
sendiri
memiliki
beberapa
ciri
seperti
refraksi,
refleksi,
separasi,
interpenetrasi,
polarisasi
dan
inklinasi.
Apabila
tanda-tanda
itu
berinteraksi
dengan
atmosfer
pada
kondisi
tertentu,
kita
akan
melihat,
sebagai
akibatnya,
gejala
siang,
fatamorgana,
pelangi,
korona
matahari
dan
gejala-gejala
lainnya.
Pada
saat
matahari
tenggelam
di
balik
ufuk,
langit
akan
tampak
beraneka
warna,
sesuai
dengan
tingkat
separasi
sinar
matahari
di
dalam
lapisan
atas
udara.
Dan
ketika
bola
matahari
semakin
menurun,
lembayung
di
ufuk
barat
akan
menghilang
secara
perlahan.
Warnanya
pun
akan
sirna.
Lalu
apabila
turunnya
bola
matahari
itu
mencapai
kelengkungan
18,5
derajat,
langit
akan
berwarna
gelap.
Para
ahli
falak
(mîqâtiyyûn:
penentu
waktu)
menamakan
gejala
timbulnya
beraneka
warna
pada
saat
itu
sebagai
masa
petang,
sebagai
tanda
masuknya
waktu
salat
Isya.
Pada
saat
petang
itu
muncul
sinar
cornetist
(kornetis)
yang
berbentuk
kerucut
dengan
alasnya
yang
berada
di
ufuk
barat.
Pada
musim
dingin,
sinar
kornetis
itu
akan
bertambah
panjang,
hingga
puncak
kerucut
itu
dapat
mencapai
azimut.
Pada
tengah
malam,
sinar
itu
muncul
pada
waktu
syuruk
mula-mula
seperti
kepala
puncak
kerucut
yang
semakin
lama
semakin
tinggi.
Alas
kerucut
itu
pun
semakin
melebar.
Setelah
itu,
ketika
matahari
berada
pada
posisi
18,5
derajat
di
bawah
ufuk
timur,
mulai
masuk
waktu
salat
Subuh.
Pada
saat
itu
mulai
muncul
lembayung
timur
secara
perlahan-lahan
dan
berlawanan
dengan
munculnya
lembayung
barat.
Apa
yang
diistilahkan
dengan
fajar
sidik
tidak
lain
merupakan
sinar
kornetis
yang
mencapai
tingkat
tertingginya
ketika
matahari
berada
pada
posisi
18,5
derajat
lebih
di
bawah
ufuk
timur.
Belakangan
ini
ditemukan
bahwa
matahari
mempunyai
lapisan
luar
yang
sangat
tipis
dan
melebar
sangat
jauh
sampai
hampir
menyentuh
atmosfer.
Lapisan
itulah
yang
menghasilkan
beraneka
warna
sinar
kornetis.
Gejala-gejala
yang
disebutkan
sebagai
contoh
tadi
akan
tampak
jelas
pada
saat
langit
tidak
berawan
dan
tidak
berangin
yang
mengandung
debu.
Apabila
langit
berawan,
yang
akan
muncul
adalah
warna
gelap.
Dan
apabila
awan
itu
mengandung
rintik
hujan--yang
dihasilkan
dari
perkawinan
proton
dan
neotron--ia
akan
berinteraksi
dengan
sinar
matahari.
Pada
gilirannya
akan
muncul
gejala
pelangi
dengan
aneka
warnanya
yang
indah.
Apabila
awan
itu
merupakan
selaput
yang
mengandung
biji-biji
kecil
berbentuk
kristal
segi
enam
yang
terbuat
dari
air
beku,
biji-biji
kristal
itu
akan
berinteraksi
dengan
sinar
matahari
sehingga
menimbulkan
refraksi
sinar
dari
permukaan
menuju
ke
dalam
untuk
kemudian
terefleksi
di
lapisan
dalam,
kemudian
teretraksi
kembali
ke
luar.
Pada
kondisi-kondisi
tertentu,
kita
akan
dapat
menyaksikan
korona
yang
berbentuk
lingkaran
besar
dan
berwarna
di
sekitar
matahari.
Di
tengah
kegelapan
malam,
akan
muncul
bintang-bintang
berkelap-kelip
di
kubah
langit
yang
tampak
seolah-olah
berjarak
tidak
jauh
dari
kita.
Pada
kenyataannya,
bintang-bintang
itu
berada
pada
kejauhan
bertahun-tahun
sinar
dari
kita.
Saat
itu,
di
kubah
langit
akan
terlihat
pula
planet-planet,
meteor
dan
bintang
berekor,
yang
juga
tampak
seolah-olah
dekat.
Bahkan
kita
hampir
tidak
merasakan
perbedaan
jaraknya.
Fenomena
ini
mengingatkan
kita
akan
makna
firman
Allah
Swt.
yang
berarti
"Dan
Kami
menjadikan
langit
sebagai
atap
yang
terjaga,
sedangkan
mereka
berpaling
dari
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
yang
terdapat
di
dalamnya"
(Q.,
s.
al-Anbiyâ':
32).
Dan,
seperti
telah
diterangkan
sebelumnya,
bahwa
selain
sinar
yang
muncul
dari
matahari
terdapat
juga
sinar
yang
muncul
dari
partikel-partikel
yang
terpancar
dari
kawasan
matahari
sangat
aktif
dan
membawa
aliran
listrik
dan
sinar
tajam
ultraviolet.
Partikel-partikel
itu
kemudian
berinteraksi
dengan
lapisan
atas
udara
dengan
terpengaruh
oleh
magnet
di
sekitar
bumi,
yang
pada
gilirannya
akan
mempengaruhi
sinar
utara
dan
selatan
hingga
tampak
berwarna
gelap
di
utara
bagaikan
tabir
warna
hijau
kemerah-merahan
yang
sangat
indah.
Gejala
ini
dapat
berlangsung
beberapa
jam
di
langit
utara
dan
dapat
disaksikan
pada
beberapa
malam
di
saat
matahari
berada
pada
titik
kulminasi
aktifitasnya.
Tabir
hijau
kemerah-merahan
itu
tidak
saja
dapat
disaksikan
di
belahan
utara
langit,
tetapi
juga
di
bagian
tengah
di
atas
daerah
katulistiwa.
Pada
awan
dan
udara
terdapat
aliran
listrik
yang
menghasilkan
kilat
dan
sinar
pada
beberapa
awan
yang
tinggi.
Beraneka
fenomena
dan
gejala
alam
itu
membuat
kita
menangkap
makna
firman
Allah
Swt.
yang
artinya
berbunyi
"Sesungguhnya,
dalam
penciptaan
langit
dan
bumi
dan
perbedaan
siang
dan
malam
benar-benar
terdapat
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
bagi
kaum
cerdik
cendekiawan."
Dari
situ
tampak
jelas
bahwa
perbedaan-
perbedaan
yang
terdapat
pada
berbagai
gejala
alam
adalah
sesuatu
yang
timbul
akibat
faktor
yang
tidak
mungkin
dicampurtangani
oleh
manusia.
Hanya
Allahlah
yang
menguasai
perberbedaan
siang
dan
malam.
Manusia
tidak
memiliki
kemampuan
apa-apa
untuk
mengendalikannya.
Allah,
dengan
ukuran
yang
tepat
dan
ketentuan
yang
pasti,
mempergilirkan
siang
dan
malam
yang
panjang
dan
pendeknya
pun
bervariasi
sepanjang
tahun.
]
[ وهو الذي يحيي ويميت وله اختلاف الليل والنهار أفلا تعقلون ] — المؤمنون 80