Filter Results
ഫലങ്ങള്: ( 1 വരെ 5 ന്റെ 5 )
(0.030 നിമിഷങ്ങള്)
#1
Al-Baqarah
:190
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Di
antara
ketakwaan
kepada
Allah
adalah
menanggung
beban
dalam
menaati-Nya.
Dan
beban
terberat
bagi
manusia
adalah
berperang
melawan
musuh-musuh
Allah(1)
yang
menyerang
lebih
dulu.
Dari
itu,
janganlah
kalian
lebih
dulu
menyerang
atau
membunuh
mereka
yang
ikut
berperang
dan
mereka
yang
tidak
ada
sangkut
pautnya
dengan
peperangan
itu.
Sesungguhnya
Allah
tidak
menyukai
mereka
yang
melampaui
batas.
{(1)
Ayat
ini
merupakan
salah
satu
ayat
yang
menolak
tuduhan
bahwa
Islam
adalah
"agama
pedang",
agama
yang
tersebar
melalui
perang,
seperti
yang
dikatakan
sebagian
orang.
Dalam
ayat
ini
ditegaskan
bahwa
kaum
Muslimin
tidak
dibolehkan
memulai
serangan
(agresi).
Ayat
ini
merupakan
ayat
kedua
yang
diturunkan
seputar
masalah
perang,
setelah
lebih
dulu
turun
surat
al-Hajj:
"Telah
diizinkan
(beperang)
bagi
orang-orang
yang
diperangi,
karena
sesungguhnya
mereka
telah
dianiaya.
Dan
sesungguhnya
Allah
benar-benar
Mahakuasa
menolong
mereka."
Bukti
bahwa
Islam
bukanlah
agama
yang
disebarkan
dengan
pedang,
adalah
karakter
dakwah
Islam--seperti
yang
diperintahkan
Allah
kepada
Rasul-Nya--yang
dilakukan
dengan
hikmah,
nasihat
dan
berdebat
dengan
cara
yang
terbaik.
Di
samping
itu,
Islam
mengajak
umat
manusia
untuk
beriman
melalui
pemberdayaan
rasio
guna
merenungi
ciptaan-ciptaan
Allah.
Dengan
cara
itulah
Rasul
menyebarkan
dakwahnya
selama
13
tahun
di
Mekah.
Tak
ada
pedang
yang
terhunus,
dan
tak
setetes
darah
pun
yang
mengalir.
Bahkan
ketika
kaum
Quraisy
menyiksa
para
pengikut-Nya,
beliau
tidak
menyuruh
mereka
membalas.
Rasul
malah
menyuruh
para
pengikutnya
yang
setia
untuk
berhijrah
ke
Habasyah
(Etiopia)
untuk
menyelamatkan
keyakinan
mereka.
Suatu
saat,
kaum
Quraisy
mengisolasikan
Banû
Hâsyim
dan
Banû
'Abd
al-Muththalib,
dua
klan
yang
merupakan
kerabat
dekat
Nabi.
Mereka
dipaksa
menyerahkan
Nabi
untuk
dibunuh
atau,
jika
tidak,
mereka
akan
diusir
dari
kota
Mekah.
Ketika
mereka
menolak
menyerahkan
Rasul,
kaum
Quraisy
pun
mulai
melakukan
tindakan
perang
yang
nyata,
yaitu
memboikot
mereka
di
Syi'b
Banû
Hâsyim,
Mekah.
Dibuatlah
perjanjian
untuk
tidak
melakukan
jual
beli
dan
tidak
melakukan
perkawinan
dengan
Banû
Hâsyim.
Perjanjian
ini
kemudian
digantung
di
dalam
Ka'bah.
Pemboikotan
yang
berlangsung
selama
tiga
tahun
ini
membuat
kaum
Muslim
hidup
sangat
sengsara,
hingga
ada
yang
mengganjal
perut
dengan
rerumputan
menahan
rasa
lapar.
Melihat
itu,
Rasul
memerintahkan
mereka--secara
sembunyi-sembunyi--untuk
berhijrah
ke
Habasyah
untuk
kedua
kalinya.
Ketika
kaum
Quraisy
mendengar
berita
bahwa
Rasul
akan
berhijrah
ke
Madinah,
mereka
pun
bersekongkol
untuk
segera
membunuh
Nabi.
Tetapi,
dengan
pertolongan
Allah,
Rasul
selamat
dari
makar
mereka
ini.
Kegagalan
ini
membuat
kebencian
Quraisy
terhadap
kaum
Muslim
semakin
bertambah.
Siksaan
terhadap
kaum
Muslim
semakin
sering
dilakukan,
sehingga
mereka
memutuskan
untuk
menyusul
Nabi
berhijrah
ke
Madinah
dengan
meninggalkan
harta,
rumah
dan
sanak
saudara.
Kendatipun
kaum
Muslim
sudah
menetap
di
Madinah,
genderang
perang
yang
telah
dibunyikan
kaum
Quraisy
sejak
peristiwa
pemboikotan
masih
terus
berkumandang.
Kedua
belah
pihak
pun
saling
mengintai.
Dan
ketika
kaum
Muslim
membuntuti
kafilah
Abû
Sufyân,
kaum
Quraisy
semakin
beralasan
untuk
menyerang
kaum
Muslim
di
Madinah,
meskipun
kafilah
Abû
Sufyân
itu
tidak
diserang
oleh
kaum
Muslim.
Tidak
ada
yang
bisa
dilakukan
oleh
kaum
Muslim
kecuali
bertahan.
Di
sinilah
lalu
turun
ayat
yang
mengizinkan
Rasul
dan
pengikutnya
berperang,
ayat
pertama
yang
berbicara
tentang
perang
(al-Hajj:
39-41).
Ayat
ini
secara
eksplisit
menegaskan
bahwa
perang
ini
dibolehkan,
adalah
karena
adanya
serangan
kaum
Quraisy
yang
zalim.
Setelah
kekalahan
kaum
Quraisy
dalam
perang
Badar
ini,
sebelum
meninggalkan
medan
pertempuran,
salah
seorang
pembesar
Quraisy
berkata,
"Perang
telah
tercatat,
pertemuan
kita
tahun
depan
di
Uhud."
Ini
jelas
merupakan
ultimatum
bahwa
kaum
Quraisy
masih
ingin
melanjutkan
peperangan.
Dan
begitulah,
peperangan
kemudian
berkecamuk
di
Uhud,
6
mil
dari
Madinah.
Kaum
Muslim
harus
bertahan
dari
serangan
Quraisy.
Serangan
Quraisy
seperti
ini
juga
terjadi
di
perang
Khandak
ketika
kaum
Muslim
dikepung
di
Madinah.
Lalu
Rasul
pun
memerintahkan
membuat
parit-parit
(khandaq)
untuk
bertahan
dari
serangan
musuh.
Alhasil,
umat
Islam
di
Madinah
kemudian
menjadi
suatu
kekuatan
yang
diperhitungkan.
Rasul
pun
mengutus
delegasi
ke
beberapa
kerajaan
untuk
mengajak
mereka
kepada
Islam.
Tetapi
di
Persia,
Raja
Kisra
menyobek
surat
Rasul
dan
mengutus
orang
yang
sanggup
memenggal
kepala
Muhammad.
Dengan
demikian,
Rraja
Kisra
telah
menyatakan
perang
terhadap
kaum
Muslim.
Kaum
Muslim
harus
bertahan
dan
akhirnya
dapat
menaklukkan
imperium
Persia
dan
kerajaan-kerajaan
Arab
yang
berada
di
bawah
koloninya.
Penaklukan
Islam
atas
imperium
Romawi
Timur
juga
tidak
keluar
dari
konteks
di
atas.
Adalah
Syarhabîl
ibn
'Amr,
raja
Ghassasinah
di
Syâm,
kerajaan
yang
berada
di
bawah
kekuasaan
Romawi,
membunuh
kurir
Rasul
yang
bermaksud
menemui
Heraclius.
Dia
pun
membunuh
setiap
warganya
yang
memeluk
Islam.
Puncaknya,
ia
mempersiapkan
satu
balatentara
untuk
menyerang
negara
Islam
di
Jazirah
Arab.
Kaum
Muslim
harus
bertahan
hingga
akhirnya
dapat
menaklukkan
imperium
Romawi
di
Timur.
Demikianlah,
Islam
tidak
pernah
memerintahkan
menghunus
pedang
kecuali
untuk
bertahan
dan
menjamin
keamanan
dakwah
Islam.
Mahabenar
Allah
ketika
berfirman,
"Tidak
ada
paksaan
untuk
(memasuki)
agama
(Islam).
Sesungguhnya
telah
jelas
jalan
yang
benar
dari
jalan
yang
salah"
(Q.,
s.
al-Baqarah:
256).
}
]
[ وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين ] — البقرة 190
#2
Az-Zukhruf
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[43
~
AZ-ZUKHRUF
(PERHIASAN)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
89
ayat
~
Surat
ini
diawali
dengan
dua
huruf
eja
seperti
gaya
al-Qur'ân
dalam
mengawali
beberapa
surat
lainnya.
Disebutkan,
setelah
itu,
mengenai
al-Qur'ân
dan
kedudukanya
di
sisi
Allah,
dan
keterangan
mengenai
sikap
orang-orang
yang
mencemoohkan
misi
yang
dibawa
oleh
para
rasul,
yang
kemudian
diikuti
dengan
pemaparan
beberapa
bukti
yang
mengharuskan
kita
beriman
hanya
kepada
Allah.
Tetapi,
kendati
bukti-bukti
itu
demikian
banyak
dan
jelas,
mereka
tetap
saja
mengakui
adanya
tuhan-tuhan
lain--yang,
tentu
saja,
palsu--selain
Allah.
Mereka
beranggapan
bahwa
Allah
memiliki
anak-anak
perempuan
sedang
mereka
memiliki
anak
laki-laki.
Dan
ketika
mereka
tak
lagi
menemukan
alasan
yang
membenarkan
anggapan
itu,
mereka
berdalih
bahwa
hal
itu
adalah
tradisi
leluhur
yang
harus
dipegang
teguh.
Pada
bagian
lain,
surat
ini
berbicara
tentang
kisah
Nabi
Ibrâhîm
a.
s.
yang
kemudian
dilanjutkan
dengan
anggapan
orang-orang
kafir
Mekah
bahwa
al-Qur'ân
terlalu
besar
untuk
diturunkan
kepada
seorang
Muhammad.
Semestinya,
menurut
mereka,
al-Qur'ân
hanya
pantas
diturunkan
kepada
salah
seorang
pembesar
Mekah
atau
Thaif.
Dengan
begitu,
mereka
seolah-olah
membagi-bagikan
karunia
Allah
sekehendak
mereka.
Padahal
Allah
sendiri
telah
membagi-bagikan
rezeki-Nya
untuk
penghidupan
mereka
di
dunia
karena
mereka
memang
tidak
mampu
melakukan
itu.
Surat
ini
kemudian
menyatakan
bahwa
andai
bukan
karena
Tuhan
tidak
ingin
kalau
semua
manusia
menjadi
kafir,
tentu
orang-orang
kafir
telah
diberi
seluruh
kenikmatan
dan
kemewahan
dunia.
Dijelaskan
pula,
kemudian,
bahwa
siapa
saja
yang
menentang
kebenaran
maka
Allah
akan
menjadikan
setan
menguasai
dirinya
lalu
membawanya
ke
lembah
kehancuran.
Selanjutnya,
surat
ini
juga
mengetengahkan
kisah
Nabi
Mûsâ
bersama
Fir'aun
dan
kaumnya
yang
sangat
sombong
dan
arogan
dengan
kekuasaannya.
Suatu
sikap
yang
kemudian
justru
mendatangkan
balasan
Allah
kepada
mereka.
Kisah
tentang
Mûsâ
ini
kemudian
dilanjutkan
dengan
penjelasan
tentang
'Isâ
putra
Maryam
yang
merupakan
seorang
hamba
yang
mendapat
karunia
dari
Allah
dan
menyeru
kepada
jalan
yang
lurus.
Setelah
dipaparkan
peringatan
bagi
orang-orang
zalim
berupa
siksaan,
dan
kabar
gembira
bagi
orang-orang
Mukmin
berupa
surga
kelak
pada
hari
kiamat,
surat
ini
ditutup
dengan
penjelasan
betapa
luasnya
kerajaan
Allah
dan
betapa
tidak
mampunya
tuhan-tuhan
palsu
yang
mereka
persekutukan
dengan-
Nya.
Dalam
hal
ini,
Nabi
Muhammad
saw.
diperintahkan
untuk
mengucapkan
"salam
perpisahan"
kepada
mereka,
agar
mereka
mengetahui.]]
Hâ,
mîm.
Surat
ini
dibuka
dengan
menyebut
dua
huruf
fonemis
yang
merupakan
gaya
al-Qur'ân
dalam
mengawali
beberapa
suratnya.
]
[ حم ] — الزخرف 1
#3
Al-Fajr
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[89
~
AL-FAJR
(FAJAR)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
30
ayat
~
Surat
ini
dimulai
dengan
sejumlah
sumpah
demi
beberapa
gejala
alam
yang
bertujuan
untuk
mengarahkan
perhatian
kepada
sejumlah
bukti
kekuasaan
Allah
yang
menunjukkan
bahwa
orang-orang
yang
ingkar
kepada
Allah
dan
kebangkitan
akan
mendapat
siksa
seperti
orang-orang
sebelum
mereka
yang
juga
mendustakannya.
Setelah
itu,
dalam
surat
ini
diutarakan
pula
ketetapan
dan
sunnatullâh
untuk
menguji
hamba-hamba-Nya,
dengan
ujian
yang
baik
maupun
yang
buruk.
Diutarakan
pula
bahwa
jika
Allah
memberikan
karunia
kepada
seseorang
dan
tidak
memberikannya
kepada
orang
lain,
hal
itu
tidak
serta
merta
menunjukkan
perkenan
dan
kemurkaan
Allah.
Kemudian
pembicaraan
diarahkan
kepada
orang-orang
yang
menjadi
sasaran
surat
ini,
bahwa
keadaan
mereka
menunjukkan
bahwa
mereka
sangat
tamak
dan
kikir.
Surat
ini
kemudian
diakhiri
dengan
isyarat
tentang
penyesalan
orang-orang
yang
melampaui
batas
dan
angan-angan
mereka
seandainya
mereka
dahulu
melakukan
perbuatan-perbuatan
baik
yang
dapat
menyelamatkan
dan
menolong
diri
mereka
dari
kedahsyatan
bencana
hari
kiamat.
Juga
tentang
kelembutan
yang
diterima
oleh
jiwa
yang
tenang,
yang
telah
mengerjakan
perbuatan-perbuatan
baik
dan
tidak
melampaui
batas,
dan
juga
panggilan
untuk
masuk
ke
dalam
golongan
hamba-hamba
Allah
yang
mendapatkan
penghormatan
di
dalam
surga-Nya.]]
Aku
bersumpah
demi
cahaya
pagi
ketika
mulai
mengusir
gelap
malam.
]
[ والفجر ] — الفجر 1
#4
Al-Burooj
:5
— MS
, Abdullah Muhammad Basmeih
#5
Al-Burooj
:4
— MS
, Abdullah Muhammad Basmeih