Filter Results
ഫലങ്ങള്: ( 1 വരെ 20 ന്റെ 6375 )
(0.033 നിമിഷങ്ങള്)
#1
Az-Zumar
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[39
~
AZ-ZUMAR
(ROMBONGAN)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
75
ayat
~
Surat
ini
termasuk
kelompok
surat
yang
diturunkan
pada
periode
Mekah,
kecuali
ayat-
ayat
52,
53
dan
54
yang
turun
pada
periode
Madinah.
Surat
ini
diawali
dengan
isyarat
betapa
tingginya
kedudukan
al-Qur'ân,
ajakan
untuk
memurnikan
ibadah
hanya
kepada
Allah,
dan
bantahan
terhadap
orang
yang
mengatakan
bahwa
Allah
mempunyai
anak.
Setelah
itu,
surat
ini
membicarkan
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
dalam
penciptaan
langit,
bumi
dan
manusia.
Ihwal
bahwa
jika
manusia
mengingkari
Allah
Dia
tetap
Mahakaya
dan
tidak
membutuhkannya,
dan
apabila
mereka
bersyukur
akan
diridai
Allah;
dan
bahwa
Allah
tidak
akan
pernah
merelakan
kekufuran,
juga
merupakan
persoalan-persoalan
yang
dibahas
dalam
surat
ini.
Selain
itu,
dibicarakan
pula
watak
dan
tabiat
manusia
yang
secara
umum
memiliki
dua
karakter.
Pertama,
apabila
tertimpa
musibah
ia
akan
berdoa
dan
kembali
kepada
Tuhannya
dan,
kedua,
apabila
mendapat
kebahagiaan
ia
segera
melupakan
apa
yang
dahulu
dimintanya.
Kemudian
dibicarakan
pula
perbandingan
antara
orang
yang
waspada
menghadapi
kehidupan
akhirat
dan
mengharap
rahmat
Tuhannya
dengan
orang-orang
yang
membangkang
Tuhannya,
serta
balasan
masing-masing
di
hari
kiamat.
Ihwal
pemberian
rahmat
kepada
mereka
dengan
menurunkan
air
hujan,
juga
disebut
di
sini.
Dengan
air
itu,
Allah
menghidupkan
bumi
setelah
sebelumnya
tandus
dan
mati,
dan
menumbuhkan
pepohonan
dan
proses
pertumbuhannya
yang
melalui
beberapa
fase.
Itu
semua
mengandung
peringatan
dan
pelajaran
bagi
orang-orang
yang
berakal.
Surat
ini
kemudian
berbicara
kembali
mengenai
al-Qur'ân
dan
pengaruhnya
terhadap
orang-orang
yang
takut
kepada
Tuhan.
Di
dalam
al-Qur'ân
itu,
Allah
memberikan
berbagai
tamsil
agar
mereka
mau
mengambil
pelajaran
dan
peringatan,
al-Qur'ân
yang
tidak
bengkok,
supaya
mereka
bersiap-
siap
dan
berhati-hati.
Di
bagian
lain,
terdapat
perbandingan
antara
hamba
yang
musyrik
dan
hamba
yang
tulus
beribadah
kepada
Allah.
Mereka
tidaklah
sama!
Juga
terdapat
peringatan
bahwa
kematian
adalah
suatu
keniscayaan
bagi
semua
makhluk
hidup.
Mereka
akan
saling
menyalahkan
di
hadapan
Allah.
Selain
itu,
terdapat
pula
keterangan
mengenai
akhir
perjalanan
orang
yang
mendustakan
Allah
dan
menustakan
kebenaran
yang
dibawa
Rasul-Nya,
serta
akhir
perjalanan
orang-orang
yang
benar
dalam
perkataannya
dan
membenarkan
serta
mempercayai
ajaran-ajaran
yang
disampaikan
mereka.
Surat
ini
mengisahkan
pula
bahwa
orang-orang
musyrik,
apabia
ditanya
mengenai
siapa
pencipta
langit
dan
bumi,
akan
mengatakan
"Allah".
Tetapi,
kendati
demikian,
mereka
tetap
menyembah
berhala
yang
sama
sekali
tidak
dapat
menolak
musibah
yang
dikehendaki
Allah
dan
tidak
bisa
pula
menahan
rahmat
jika
Allah
berkehendak
menurunkannya
kepada
mereka.
Setelah
itu,
surat
ini
menegaskan
bahwa
kitab
suci
al-Qur'ân
ini
diturunkan
dengan
benar.
Oleh
karena
itu,
barangsiapa
yang
mau
mengambil
petunjuk
dari
al-Qur'ân,
maka
keuntungannya
akan
kembali
kepada
dirinya
sendiri.
Begitu
pula
sebaliknya,
barangsiapa
yang
tersesat,
maka
dosanya
pun
akan
ditanggung
sendiri.
Selain
itu,
surat
ini
menegaskan
pula
bahwa
Rasulullah
saw.
diutus
bukan
sebagai
penguasa.
Setelah
itu,
surat
ini
kembali
mengingatkan
mereka,
orang-orang
musyrik,
tentang
kematian
dan
hari
kebangkitan,
dan
bahwa
apa
yang
mereka
anggap
sebagai
sekutu-sekutu
Allah
tidak
memiliki
apa-apa,
bahkan
syafaat
sekalipun.
Syafaat
hanya
ada
pada
Allah
Swt.
Ketika
pembicaraan
mengenai
ancaman
yang
diberikan
kepada
orang-orang
yang
durhaka
dan
orang-orang
yang
berlebih-
lebihan
berupa
siksa
yang
sangat
pedih--yang
bisa
jadi
menimbulkan
perasaan
putus
asa
akan
rahmat
Allah
pada
diri
manusia--Allah
membuka
pintu
harapan
lagi.
Firman-Nya
yang
berbunyi:
"Katakan,
wahai
Muhammad,
kepada
orang-orang
yang
berlebih-lebihan
atas
diri
mereka,
'Jangan
kalian
berputus
asa
akan
rahmat
Allah.
Sesungguhnya
Allah
akan
mengampuni
semua
dosa.
Dia
sungguh
Maha
Pengampun
dan
Maha
Pengasih',"
yang
disebut
di
bagian
akhir
surat
ini,
adalah
isyarat
untuk
itu.
Allah
kemudian
mengajak
mereka
untuk
kembali
kepada-Nya
sebelum
datangnya
siksaan
secara
tiba-tiba
pada
saat
mereka
tidak
merasakannya.
Dalam
hal
ini,
Allah
berfirman,
"Pada
hari
kiamat
kamu
akan
melihat
wajah
orang-orang
yang
mendustakan
Allah
tampak
hitam,
dan
orang-orang
yang
bertakwa
kepada-Nya
tidak
akan
menderita
dan
tidak
akan
bersedih
hati."
Surat
ini
kemudian
diakhiri
dengan
pembicaraan
mengenai
hari
akhir,
mulai
dari
peniupan
sangkakala
yang
membuat
semua
makhluk
yang
ada
di
langit
dan
di
bumi
jatuh
tersungkur,
kecuali
mereka
yang
dikehendaki-Nya,
sampai
kepada
pengambilan
hak
oleh
masing-masing
orang.
Penghuni
neraka
akan
digiring
ke
dalam
neraka,
dan
penghuni
surga
akan
diantar
ke
surga.
Penghuni
surga
akan
berkata,
"Puji
syukur
bagi
Allah
yang
telah
menepati
janji-Nya
kepada
kita."
Perkara
antara
mereka
telah
diputuskan
dengan
benar.
Mereka
pun,
kemudian,
mengucapkan,
"Al-hamd-u
lillâh-i
rabb-i
al-'âlamîn."]]
Penurunan
al-Qur'ân
adalah
oleh
Allah
yang
kehendak-Nya
tidak
dikendalikan
oleh
siapa
pun,
Yang
Mahabijaksana
pada
setiap
tindakan
dan
ketetapan
hukum-Nya.
]
[ تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم ] — الزمر 1
#2
Al Imran
:190
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Sesungguhnya
penciptaan
langit
dan
bumi
oleh
Allah
dengan
kesempurnaan
dan
ketepatan,
perbedaan
antara
siang
dan
malam,
cahaya
dan
kegelapan,
rentang
panjang
dan
pendeknya
waktu,
merupakan
tanda-
tanda
yang
jelas
bagi
mereka
yang
memiliki
akal
yang
mengetahui
keesaan
dan
kekuasaan
Tuhan(1).
(1)
Sesungguhnya
dalam
penciptaan
langit
dan
bumi,
perbedaan
rentang
waktu
siang
dan
malam
adalah
sebagai
tanda-tanda
kekuasaan
Tuhan
bagi
para
Ulû
al-Albâb
(orang-orang
yang
berpengetahuan
mendalam).
Teks
ayat
tersebut
memberi
isyarat
pada
fakta-fakta
kosmis
yang
menunjuk
pada
keagungan
Pencipta.
Marilah
kita
coba
mengamati
langit.
Warna
langit
bisa
tertangkap
oleh
penglihatan
kita
berkat
radiasi
sinar
matahari
yang
mengenai
lapisan
udara
yang
menyelubungi
bumi.
Pada
saat
radiasi
sinar
matahari
itu
jatuh
pada
atom
unsur-unsur
kimia
yang
membentuk
molekul
udara,
dan
udara
itu
sendiri
yang
menyimpan
partikel
debu-debu
halus
dengan
gerak
balik
(refleksi),
atom-atom
itu
memancarkan
bias
ke
berbagai
penjuru
angkasa.
Sebenarnya
cahaya
warna
putih
itu
merupakan
gabungan
dari
berbagai
jenis
warna.
Di
sini
atom-atom
itu
saling
menyerap
warna-warna
itu
ke
dalam
dirinya.
Dari
beberapa
eksperimen
didapat
kesimpulan
bahwa
warna
yang
paling
kuat
biasnya
adalah
warna
biru.
Hal
itu
akan
semakin
menjadi
jelas
pada
saat
matahari
berada
pada
puncak
ketinggiannya.
Kemudian,
warna
kebiruan
itu
menjadi
berkurang
hingga
ketika
matahari
berada
di
ufuk
barat
atau
timur,
bias
cahaya
matahari
itu
menembus
lapisan
udara
dari
jarak
yang
relatif
amat
jauh,
sehingga
pada
posisi
seperti
ini
bias
warna
merah
terlihat
lebih
dominan
dari
warna
yang
lain.
Ringkasnya,
cahaya
di
waktu
siang
membutuhkan
radiasi
matahari
dan
partikel-partikel
debu
halus
dalam
porsi
yang
cukup.
Hal
itu
dibuktikan
oleh
peristiwa
cukup
unik
yang
terjadi
pada
tahun
1944.
Pada
waktu
tengah
hari,
secara
tiba-tiba
langit
menjadi
gelap
dan
siang
itu
hampir-hampir
berubah
menjadi
malam
karena
pekatnya.
Peristiwa
itu
terjadi
beberapa
saat,
kemudian
langit
berubah
memerah,
berangsur-angsur
menjadi
oranye,
menguning
dan
akhirnya
kembali
normal
kurang
lebih
satu
jam
berikutnya.
Belakangan
diketahui
bahwa
fenomena
alam
yang
cukup
unik
itu
dilahirkan
oleh
bias
cahaya
langit
yang
berlapis-lapis,
membentuk
warna
abu-abu
dan
terbawa
oleh
angin
menuju
kawasan
cukup
jauh
di
bagian
tengah
Afrika,
menuju
ke
utara
melewati
bagian
barat
Asia
dan
dapat
diamati
dengan
jelas
di
beberapa
kawasan
di
Syria.
Peristiwa
itu
bisa
ditafsirkan
bahwa
partikel-partikel
halus
debu
yang
beterbangan
di
angkasa
telah
menghalangi
radiasi
matahari,
dan
ketika
semakin
menipis
warnanya
berubah
merah,
kuning
dan
seterusnya.
Jika
pada
saat
itu
orang
bisa
naik
ke
angkasa,
maka
ia
akan
merasa
melewati
lapisan
udara
bumi
yang
berlapis-lapis,
yang
masing-masing
memiliki
corak
dan
keistimewaan
tersendiri.
Berangsur-angsur
ia
akan
menyaksikan
warna
langit
menjadi
biru
pekat,
hingga
apabila
sampai
pada
lapisan
bumi
paling
luar
yang
sama
sekali
tidak
mengandung
partikel-partikel
debu
yang
ada
pada
lapisan
udara
dalam,
langit
akan
tampak
gelap
bagai
malam
hari,
meskipun
matahari
berada
di
ufuk.
Kesimpulannya
adalah
bahwa
di
sana
ada
lapisan
langit
lain
dalam
bentuk
kubah
(celestial
sphere)
yang
warna
dan
corak
masing-masing
berbeda
dan
memanjang
sampai
ke
inti
angkasa.
Ini
salah
satu
bukti
kekuasaan
Allah
Swt.
Cahaya
di
siang
hari
membutuhkan
jatuhnya
radiasi
matahari
menjadi
atom-atom
yang
terdapat
dalam
atmosfer
bumi,
yang
membawa
gumpalan-gumpalan
debu
halus
dalam
porsi
yang
berbeda.
Cahaya
siang
hari
itu
begitu
kuatnya
sehingga
menghalangi
cahaya
redup
yang
memancar
dari
bintang
atau
cahaya
dari
pergesekan
meteor
dan
bintang
berekor
dengan
lapisan
udara
luar.
Proses
terjadinya
siang
dan
malam
berawal
dari
perputaran
bumi
pada
porosnya,
sementara
perputaran
bumi
mengelilingi
matahari
mengakibatkan
adanya
pertautan
waktu
antara
siang
dan
malam.
Dan
kecondongan
bumi
dari
garis
edarnya
(orbit)
berpengaruh
pada
rentang
waktu
malam
dan
siang
yang
panjang
dan
pendeknya
tergantung
pada
musim
dan
letak
geografis
masing-
masing
kawasan.
Dan
dari
sebagian
hikmah
Tuhan
Yang
Mahakuasa
bahwa
pertautan
siang-malam
dan
perkisaran
keduanya
dalam
waktu
relatif
pendek
membuat
cuaca
menjadi
seimbang
sehingga
melahirkan
iklim
yang
cocok
bagi
adanya
kehidupan
di
bumi.
]
[ إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب ] — آل عمران 190
#3
Al-Nas
:6
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#4
Al-Nas
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#5
Al-Nas
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#8
Al-Nas
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#9
Al-Falaq
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#10
Al-Falaq
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#11
Al-Falaq
:3
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#12
Al-Falaq
:2
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#13
Al-Falaq
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#14
Al-Ikhlas
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#15
Al-Ikhlas
:3
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#16
Al-Ikhlas
:2
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#17
Al-Ikhlas
:1
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#18
Al-Masadd
:5
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#19
Al-Masadd
:4
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei
#20
Al-Masadd
:3
— Persian
, Mahdi Elahi Ghomshei