Filter Results
ئەنجام: ( 1 بۆ 2 ليرەوە 2 )
(0.033 دووةم)
#1
آل عمران
:190
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Sesungguhnya
penciptaan
langit
dan
bumi
oleh
Allah
dengan
kesempurnaan
dan
ketepatan,
perbedaan
antara
siang
dan
malam,
cahaya
dan
kegelapan,
rentang
panjang
dan
pendeknya
waktu,
merupakan
tanda-
tanda
yang
jelas
bagi
mereka
yang
memiliki
akal
yang
mengetahui
keesaan
dan
kekuasaan
Tuhan(1).
(1)
Sesungguhnya
dalam
penciptaan
langit
dan
bumi,
perbedaan
rentang
waktu
siang
dan
malam
adalah
sebagai
tanda-tanda
kekuasaan
Tuhan
bagi
para
Ulû
al-Albâb
(orang-orang
yang
berpengetahuan
mendalam).
Teks
ayat
tersebut
memberi
isyarat
pada
fakta-fakta
kosmis
yang
menunjuk
pada
keagungan
Pencipta.
Marilah
kita
coba
mengamati
langit.
Warna
langit
bisa
tertangkap
oleh
penglihatan
kita
berkat
radiasi
sinar
matahari
yang
mengenai
lapisan
udara
yang
menyelubungi
bumi.
Pada
saat
radiasi
sinar
matahari
itu
jatuh
pada
atom
unsur-unsur
kimia
yang
membentuk
molekul
udara,
dan
udara
itu
sendiri
yang
menyimpan
partikel
debu-debu
halus
dengan
gerak
balik
(refleksi),
atom-atom
itu
memancarkan
bias
ke
berbagai
penjuru
angkasa.
Sebenarnya
cahaya
warna
putih
itu
merupakan
gabungan
dari
berbagai
jenis
warna.
Di
sini
atom-atom
itu
saling
menyerap
warna-warna
itu
ke
dalam
dirinya.
Dari
beberapa
eksperimen
didapat
kesimpulan
bahwa
warna
yang
paling
kuat
biasnya
adalah
warna
biru.
Hal
itu
akan
semakin
menjadi
jelas
pada
saat
matahari
berada
pada
puncak
ketinggiannya.
Kemudian,
warna
kebiruan
itu
menjadi
berkurang
hingga
ketika
matahari
berada
di
ufuk
barat
atau
timur,
bias
cahaya
matahari
itu
menembus
lapisan
udara
dari
jarak
yang
relatif
amat
jauh,
sehingga
pada
posisi
seperti
ini
bias
warna
merah
terlihat
lebih
dominan
dari
warna
yang
lain.
Ringkasnya,
cahaya
di
waktu
siang
membutuhkan
radiasi
matahari
dan
partikel-partikel
debu
halus
dalam
porsi
yang
cukup.
Hal
itu
dibuktikan
oleh
peristiwa
cukup
unik
yang
terjadi
pada
tahun
1944.
Pada
waktu
tengah
hari,
secara
tiba-tiba
langit
menjadi
gelap
dan
siang
itu
hampir-hampir
berubah
menjadi
malam
karena
pekatnya.
Peristiwa
itu
terjadi
beberapa
saat,
kemudian
langit
berubah
memerah,
berangsur-angsur
menjadi
oranye,
menguning
dan
akhirnya
kembali
normal
kurang
lebih
satu
jam
berikutnya.
Belakangan
diketahui
bahwa
fenomena
alam
yang
cukup
unik
itu
dilahirkan
oleh
bias
cahaya
langit
yang
berlapis-lapis,
membentuk
warna
abu-abu
dan
terbawa
oleh
angin
menuju
kawasan
cukup
jauh
di
bagian
tengah
Afrika,
menuju
ke
utara
melewati
bagian
barat
Asia
dan
dapat
diamati
dengan
jelas
di
beberapa
kawasan
di
Syria.
Peristiwa
itu
bisa
ditafsirkan
bahwa
partikel-partikel
halus
debu
yang
beterbangan
di
angkasa
telah
menghalangi
radiasi
matahari,
dan
ketika
semakin
menipis
warnanya
berubah
merah,
kuning
dan
seterusnya.
Jika
pada
saat
itu
orang
bisa
naik
ke
angkasa,
maka
ia
akan
merasa
melewati
lapisan
udara
bumi
yang
berlapis-lapis,
yang
masing-masing
memiliki
corak
dan
keistimewaan
tersendiri.
Berangsur-angsur
ia
akan
menyaksikan
warna
langit
menjadi
biru
pekat,
hingga
apabila
sampai
pada
lapisan
bumi
paling
luar
yang
sama
sekali
tidak
mengandung
partikel-partikel
debu
yang
ada
pada
lapisan
udara
dalam,
langit
akan
tampak
gelap
bagai
malam
hari,
meskipun
matahari
berada
di
ufuk.
Kesimpulannya
adalah
bahwa
di
sana
ada
lapisan
langit
lain
dalam
bentuk
kubah
(celestial
sphere)
yang
warna
dan
corak
masing-masing
berbeda
dan
memanjang
sampai
ke
inti
angkasa.
Ini
salah
satu
bukti
kekuasaan
Allah
Swt.
Cahaya
di
siang
hari
membutuhkan
jatuhnya
radiasi
matahari
menjadi
atom-atom
yang
terdapat
dalam
atmosfer
bumi,
yang
membawa
gumpalan-gumpalan
debu
halus
dalam
porsi
yang
berbeda.
Cahaya
siang
hari
itu
begitu
kuatnya
sehingga
menghalangi
cahaya
redup
yang
memancar
dari
bintang
atau
cahaya
dari
pergesekan
meteor
dan
bintang
berekor
dengan
lapisan
udara
luar.
Proses
terjadinya
siang
dan
malam
berawal
dari
perputaran
bumi
pada
porosnya,
sementara
perputaran
bumi
mengelilingi
matahari
mengakibatkan
adanya
pertautan
waktu
antara
siang
dan
malam.
Dan
kecondongan
bumi
dari
garis
edarnya
(orbit)
berpengaruh
pada
rentang
waktu
malam
dan
siang
yang
panjang
dan
pendeknya
tergantung
pada
musim
dan
letak
geografis
masing-
masing
kawasan.
Dan
dari
sebagian
hikmah
Tuhan
Yang
Mahakuasa
bahwa
pertautan
siang-malam
dan
perkisaran
keduanya
dalam
waktu
relatif
pendek
membuat
cuaca
menjadi
seimbang
sehingga
melahirkan
iklim
yang
cocok
bagi
adanya
kehidupan
di
bumi.
]
[ إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب ] — آل عمران 190
#2
يس
:39
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Dan
bulan--dengan
pemeliharaan
Kami--Kami
jadikan
menempati
posisi-posisi
tertentu.
Dengan
sebab
itulah,
pada
awalnya,
bulan
terlihat
kecil
yang
malam
demi
malam
semakin
bertambah
besar
hingga
sempurna
membentuk
bulan
purnama.
Setelah
itu
bulan--secara
berangsur-angsur
pula--mengecil
kembali
hingga
terlihat
seperti
pertama
kali
muncul,
bagaikan
tandan
yang
segar
kemudian
menua
dan
mulai
melengkung,
layu
dan
menguning.
]
[ والقمر قدرناه منازل حتى عاد كالعرجون القديم ] — يس 39