Filter Results
結果: ( 1 に 2 の 2 )
(0.048 秒)
#1
An-Naml
:88
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Wahai
Muhammad,
kamu
pasti
menyangka
bahwa
gunung-gunung
itu
diam
tak
bergerak.
Padahal
sebenarnya
tidak
demikian.
Gunung-gunung
itu
bergerak
cepat
bagai
awan.
Itulah
sebagian
dari
ciptaan
Allah,
Pencipta
segala
sesuatu
dengan
sempurna.
Allah
Swt.
mengetahui
secara
terperinci
apa
yang
diperbuat
oleh
manusia
berupa
ketaatan
dan
kemaksiatan.
Dan
Allah
akan
memberikan
balasan
pada
amal
perbuatan
itu(1).
(1)
Ayat
ini
memberikan
penjelasan
bahwa
segala
benda
yang
tunduk
pada
hukum
gravitasi
bumi,
termasuk
lautan,
daratan,
gunung-
gunung,
atmosfer
dan
benda-benda
lainnya,
berotasi
bersama-sama
bumi
dan
berputar
pula
mengelilingi
matahari.
Proses
pergerakan
itu
akan
mengakibatkan
separo
belahan
bumi
akan
mengalami
kegelapan
selama
enam
bulan,
sedang
paroan
lain
akan
mengalami
siang
yang
terang
benderang
selama
masa
yang
sama.
Tetapi
kita,
sebagai
penduduk
bumi,
tidak
merasakan
gerak
perputaran
itu.
Persis
saat
kita
menyaksikan
gerak
awan
di
udara
yang
tidak
menimbulkan
bunyi.
Dan
Allah
Maha
Kuasa
untuk
menjadikan
bumi
berhenti,
tidak
berotasi
pada
porosnya
atau
menjadikan
masa
rotasinya
sama
dengan
masa
yang
dipergunakan
bumi
mengelilingi
matahari
(evolusi).
Dengan
begitu
separo
permukaan
bumi
akan
mengalami
malam
yang
gelap
gulita
dan
separo
yang
lain
mengalami
siang
terang
benderang
sepanjang
tahun.
Hal
itu
tentu
dapat
berakibat
hilangnya
keseimbangan
temperatur
bumi
secara
keseluruhan.
Pada
gilirannya,
hal
terakhir
ini
akan
mengakibatkan
musnahnya
semua
makhluk
yang
ada
di
bumi.
Allah
Swt.
membuat
semua
aturan
dengan
sangat
teliti
itu,
sebagai
wujud
kasih
sayang
kepada
hamba-Nya.
Meskipun
Aristarkhos
(310-230
S.
M),
seorang
ahli
falak
Yunani
telah
menulis
tentang
rotasi
bumi,
tulisannya
itu
belum
sampai
kepada
kalangan
Arab
pada
masa
Muhammad
saw.
atau
sebelumnya.
Orang
pertama
di
kalangan
Arab
yang
menyinggung
masalah
ini
adalah
Al-Bîrûnî
sekitar
tahun
1000
M.,
mengiring
gerakan
terjemah
yang
terjadi
pada
masa
dinasti
Abbasiah.
Penyampaian
fakta
ilmiah
ini
melalui
Muhammad
saw.
sebelum
ia
sendiri
tahu
tentang
hal
itu,
adalah
bukti
bahwa
al-Qur'ân
benar-benar
wahyu
yang
difirmankan
oleh
Allah
Swt.
]
[ وترى الجبال تحسبها جامدة وهي تمر مر السحاب صنع الله الذي أتقن كل شيء إنه خبير بما تفعلون ] — النمل 88
#2
Al-Furqan
:45
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Kami
telah
memberikan
bukti-bukti
keesaan
Tuhan
yang
dapat
digunakan
oleh
orang-orang
yang
mau
menggunakan
fikiran.
Cobalah
perhatikan
bayang-bayang.
Allah
telah
membentangkannya
pada
pagi
hari
dan
menjadikannya
tenang.
Dengan
munculnya
matahari,
bagian
bayang-bayang
yang
terkena
sinar
menjadi
hilang.
Maka
dengan
demikian
matahari
menjadi
bukti
adanya
bayang-bayang.
Kalau
tidak
karena
matahari,
niscaya
bayang-bayang
itu
tidak
dapat
diketahui.
Kalau
Allah
menghendaki,
Dia
akan
menjadikan
bayang-bayang
itu
menyelimuti
manusia,
sehingga
dengan
begitu
beberapa
keperluan
manusia
menjadi
terlewat(1).
(1)
Ayat
ini
menyinggung
salah
satu
bukti
kekuasaan
dan
pemeliharaan
Sang
Pencipta.
Panjang
dan
pendek
yang
terjadi
pada
bayangan
menunjukkan
adanya
proses
perputaran
bumi--baik
pada
porosnya
maupun
mengelilingi
matahari--dalam
posisi
miring.
Jika
dua
proses
perputaran
itu
tidak
ada,
bayangan
akan
diam,
karena
matahari
hanya
menyinari
salah
satu
paroan
bumi
saja,
sedangkan
paroan
yang
lain
akan
gelap
dan
malam
sepanjang
tahun.
Akibatnya,
keseimbangan
suhu
udara
menjadi
rusak
dan
kehidupan
menjadi
tidak
mungkin.
Selanjutnya,
hal
itu
juga
bisa
terjadi
apabila
tempo
gerak
bumi
pada
porosnya
(rotasi)
berbanding
lurus
dengan
tempo
gerak
bumi
mengelilingi
matahari
(revolusi).
Dengan
demikian,
satu
hari
sama
dengan
satu
tahun.
Tidak
ada
yang
dapat
melakukan
hal
seperti
itu
kecuali
Allah,
di
samping
bayangan
itu
sendiri
adalah
salah
satu
karunia
Allah.
Seandainya
Allah
menjadikan
semua
benda
menjadi
bening
atau
tembus
pandang,
maka
bayangan
tidak
akan
ada
dan
kehidupan
menjadi
tidak
mungkin.
]
[ ألم تر إلى ربك كيف مد الظل ولو شاء لجعله ساكنا ثم جعلنا الشمس عليه دليلا ] — الفرقان 45