Filter Results
結果: ( 1 に 2 の 2 )
(0.024 秒)
#1
Fatir
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[35
~
FATHIR
(PENCIPTA)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
45
ayat
~
Surat
ini
dibuka
dengan
memuji
Allah
yang
telah
menciptakan
langit
dan
bumi
tanpa
contoh
sebelumnya
dan
menjadikan
malaikat-malaikat
yang
memiliki
beragam
sayap
sebagai
rasul
kepada
para
hamba-Nya.
Jika
Allah
berkehendak
untuk
menurunkan
karunia-Nya,
maka
tak
ada
yang
dapat
menghalangi-Nya.
Sebaliknya,
tak
seorang
pun
dapat
mendatangkannya
jika
Allah
tidak
menghendaki
hal
itu.
Allah
berfirman
kepada
manusia
untuk
senantiasa
mengingat
berbagai
nikmat
yang
dilimpahkan-Nya.
Sebab,
tak
ada
Pencipta
selain
Allah
yang
dapat
memberikan
rezeki.
Dan
Allah
tidak
memerlukan
bantuan
dari
siapa
pun
dalam
segala
tindakan-Nya.
Kendati
demikian,
kaummu,
wahai
Muhammad,
telah
mendustakan
seruanmu.
Maka
kisah-kisah
para
rasul
sebelummu
dapat
dijadikan
sebagai
bahan
renungan,
dan
janji
Kami
bahwa
semuanya
akan
kembali
kepada
Kami
dapat
menjadi
pelipur
laramu.
Seharusnya
manusia
tidak
terpedaya
dengan
kehidupan
dunia
dengan
segala
keindahannya.
Mereka
juga
semestinya
tidak
mengamini
jalan
setan
yang
selalu
mengajak
kepada
kebinasaan
dan
menjerumuskan
manusia
ke
dalam
api
neraka.
Orang-orang
yang
perbuatan
buruknya
dihiasi
oleh
setan
tak
dapat
disamakan
dengan
mereka
yang
menjauhi
tipu
dayanya.
Begitulah,
memang,
kehidupan
umat
manusia.
Maka
janganlah
kamu
merasa
menyesal
dan
bersedih
hati
mendapati
penolakan
mereka
untuk
beriman.
Allahlah
yang
menggiring
awan
dan
menghidupkan
kematian
melalui
iring-iringan
awan
yang
menghasilkan
hujan.
Dia
Mahakuasa
menghidupkan
kembali
sesuatu
yang
telah
mati
untuk
mendapatkan
perhitungan
dan
balasan.
Dari
itu,
mereka
yang
ingin
mendapatkan
perlindungan
tentu
akan
meminta
pertolongan
kepada
Allah.
Jika
ia
meminta
kepada
selain
Allah,
Dia
akan
membuatnya
semakin
terhina.
Seluruh
amal
perbuatan
manusia
akan
diperlihatkan
oleh
Allah.
Dia
akan
menerima
amal
perbuatan
orang-orang
beriman
dan
menolak
amal
perbuatan
orang-orang
kafir.
Bukti
kemahakuasaan
Allah
untuk
membangkitkan
dan
mengumpulkan
manusia
dari
kematian
adalah
sangat
jelas
dan
banyak.
Di
antaranya,
Dia
telah
menciptakan
manusia
dari
tanah
yang
berproses
menjadi
sperma.
Lalu
diciptakan-Nya
manusia
berpasangan-pasangan
hingga
sang
istri
dapat
mengandung
seorang
anak
yang
kelahirannya
hanya
diketahui
Allah.
Bukti
lainnya
adalah
diciptakannya
air
tawar
dan
air
asin
yang
mengandung
berbagai
bentuk
karunia.
Adanya
pergantian
siang
dan
malam
dan
ditundukkannya
matahari
dan
bulan
untuk
beredar
sampai
batas
waktu
yang
Allah
tentukan,
dapat
dimasukkan
pula
sebagai
bukti
kemahakuasaan
Allah.
Dengan
kekuasaan
seperti
ini,
Dialah
Tuhan
yang
hakiki.
Adapun
tuhan-tuhan
selain-Nya,
mereka
tidak
memiliki
kemampuan
apa-apa.
Jika
diminta,
mereka
tidak
dapat
mendengar.
Seandainyapun
mereka
dapat
mendengar,
tentu
mereka
tidak
dapat
mengabulkan
permintaan
itu.
Di
hari
kiamat
nanti,
tuhan-tuhan
selain
Allah
itu
akan
mengingkari
perbuatan
orang-orang
yang
menjadikan
mereka
sebagai
sekutu
Allah.
Tetapi
Allah
Mahabijaksana
mengadili
para
hamba-Nya,
sesuai
dengan
amal
perbuatan
setiap
manusia.
Karena
itulah
Allah
mengutus
para
rasul
untuk
menyeru
mereka
agar
bertakwa
kepada
Allah.
Tugas
seorang
rasul
hanyalah
untuk
memberi
peringatan
kepada
kaumnya.
Tidak
ada
satu
umat
pun
yang
tidak
didatangkan
seorang
pemberi
peringatan
kepadanya.
Surat
ini
kemudian
kembali
membicarakan
bukti-bukti
kemahakuasaan
Allah.
Disebutlah
tentang
keberadaan
air
yang
menghasilkan
beragam
jenis
buah-buahan,
tentang
gunung-
gunung
yang
memiliki
garis-garis
berwarna
putih,
merah
dan
hitam,
serta
tentang
wujud
manusia
dan
binatang
dengan
berbagai
bentuknya.
Semua
bukti
itu
semestinya
dapat
membuat
manusia
tunduk
dan
patuh
kepada
Allah.
Hanya
mereka
yang
selalu
membaca
dan
mengamalkan
kitab
suci
yang
diturunkan
kepada
manusia
pilihanlah
yang
akan
memperoleh
kenikmatan
surga.
Sebaliknya,
mereka
yang
ingkar
akan
dijerumuskan
ke
dalam
api
neraka
untuk
selama-lamanya.
Di
saat
itulah
orang-orang
kafir
berharap
dan
memohon
untuk
dapat
kembali
ke
alam
dunia
agar
dapat
melakukan
amal
saleh.
Tetapi
waktu
untuk
melakukan
amal
saleh,
yang
hanya
dapat
dipergunakan
oleh
orang-orang
beriman,
telah
habis.
Rasul
pemberi
peringatan
pun
telah
pernah
didatangkan
kepada
mereka.
Mahasuci
Allah
yang
telah
menciptakan
manusia
sebagai
khalifah-khalifah-Nya
di
bumi.
Dia
telah
menyangga
langit
dan
menahan
bumi
dari
kehancuran.
Sebelumnya,
orang-orang
yang
ingkar
itu
telah
berjanji
untuk
mengikuti
jejak
pemberi
peringatan
yang
diutus
kepada
mereka,
agar
kondisi
mereka
menjadi
lebih
baik
dari
umat-umat
sebelumnya.
Tetapi
tatkala
pemberi
peringatan
itu
datang,
mereka
malah
merasa
sombong
dan
takabur.
Rencana
jahat
yang
mereka
rancang
Allah
patahkan.
Kekuatan
yang
ada
pada
mereka
tidak
dapat
menandingi
kekuasaan
Allah.
Jikalau
Alah
menghendaki
untuk
menurunkan
siksaan-Nya
kepada
penghuni
bumi
sesuai
dengan
perbuatan
mereka,
niscaya
tak
akan
ditemui
satu
binatang
melata
pun
di
muka
bumi
ini.
Dari
itu,
Dia
menangguhkan
hal
itu
sampai
tiba
saat
yang
telah
ditentukan.
Jika
saatnya
datang,
sesungguhnya
Allah
Maha
Melihat
segala
perbuatan
para
hamba-Nya.]]
Segala
puja
dan
puji
yang
indah
hanyalah
untuk
Allah
semata.
Dialah
Pencipta
langit
dan
bumi
tanpa
contoh
sebelumnya.
Dialah
pula
yang
menjadikan
malaikat-malaikat
dengan
jumlah
sayap
yang
beraneka
ragam,
dua-dua,
tiga-tiga
dan
empat-empat,
sebagai
rasul
yang
diutus
kepada
makhluk-Nya.
Jika
Dia
berkehendak
memberi
tambahan,
Dia
berhak
memberikan
tambahan
pada
ciptaan-Nya.
Tak
ada
yang
dapat
menundukkan-Nya
karena
kekuasaan-Nya
atas
segala
sesuatu
teramat
besar.
]
[ الحمد لله فاطر السماوات والأرض جاعل الملائكة رسلا أولي أجنحة مثنى وثلاث ورباع يزيد في الخلق ما يشاء إن الله على كل شيء قدير ] — فاطر 1
#2
Al-Muminoon
:71
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Seandainya
kebenaran
itu
mengikuti
keinginan
hawa
nafsu
mereka,
tentu
kerusakan
dan
kejahatan
akan
merajalela
di
muka
bumi
dan,
tentu,
keinginan
itu
akan
saling
bertentangan.
Akan
tetapi,
Kami
menurunkan
al-Qur'ân
kepada
mereka
yang
mengingatkan
pada
kebenaran
yang
diakui
oleh
semua
orang.
Tetapi,
meskipun
demikian,
mereka
tetap
menolaknya(1).
(1)
Kata
al-haqq
dalam
ayat
ini
termasuk
kata
homonim.
Kata
itu
dapat
berarti
'Allah
Swt.
'
seperti
tersebut
dalam
ayat
yang
berbunyi
Ta'âlâ
Allâh-u
al-Malik-u
al-Haqq
(Q.,
s.
Thâhâ:
114).
Dapat
juga
berarti
'al-Qur'ân'
seperti
tersebut
dalam
ayat
Innâ
arsalnâk-a
bi
al-haqq
(Q.,
s.
Fathir:
24),
atau
pengertian
agama
secara
umum,
termasuk
di
dalamnya
al-Qur'ân
dan
al-Hadits,
seperti
pada
ayat
yang
berbunyi
Wa
qul
jâ'a
al-haqq-u
wa
zahaq-a
al-bâthil
(Q.,
s.).
Tampaknya
makna
yang
paling
dekat
dengan
pengertian
ayat
ini
adalah
makna
pertama,
yaitu
bahwa
yang
dimaksud
dengan
kata
al-haqq
adalah
Allah
Swt.
Dengan
demikian,
maksud
ayat
ini
adalah
sebagai
berikut:
'Seandainya
ketetapan
Allah
berjalan
mengikuti
keinginan
dan
kehendak
hawa
nafsu
orang-orang
kafir,
tentu
tata
aturan
yang
melandasi
langit
dan
bumi
serta
makhluk-makhluk
lainnya
ini
tidak
akan
berjalan
dengan
baik.
Akan
tetapi,
Allah
memiliki
hikmah
yang
sangat
besar
dan
kekuasaan
yang
luar
biasa.
Ilmu-Nya
pun
meliputi
seluruh
makhluk-Nya.
Hikmah-Nya
terlaksana
berkat
pengaturan-
Nya
yang
sangat
akurat"
Adapun
keterangan
al-Qur'ân
bahwa
di
langit
terdapat
makhluk
hidup,
ini
mengisyaratkan
dua
hal.
Pertama,
kita
harus
mengimaninya
secara
apa
adanya,
dengan
penuh
keyakinan,
tanpa
membahas
perinciannya,
sampai
Allah
sendiri
yang
akan
menerangkan
maksudnya.
Hal
ini
sesuai
dengan
firman
Allah
yang
artinya
berbunyi
"Kami
akan
menunjukkan
kepada
mereka
tanda-
tanda
kekuasaan
kami
di
ufuk
(alam
raya,
cakrawala)
dan
di
dalam
diri
mereka
sendiri".
Kedua,
bahwa
kita
dituntut
untuk
selalu
melakukan
penelitian
sesuai
kemampuan
kita.
Sebab,
penemuan
fakta-fakta
ilmiah
baru
akan
semakin
memperkuat
keimanan
kita.
Dan
keimanan
adalah
sasaran
utama
yang
hendak
dicapai
surat
ini.
]
[ ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل أتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون ] — المؤمنون 71