Filter Results
Résultats: ( 1 vers 2 de 2 )
(0,024 secondes)
#1
Az-Zumar
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[39
~
AZ-ZUMAR
(ROMBONGAN)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
75
ayat
~
Surat
ini
termasuk
kelompok
surat
yang
diturunkan
pada
periode
Mekah,
kecuali
ayat-
ayat
52,
53
dan
54
yang
turun
pada
periode
Madinah.
Surat
ini
diawali
dengan
isyarat
betapa
tingginya
kedudukan
al-Qur'ân,
ajakan
untuk
memurnikan
ibadah
hanya
kepada
Allah,
dan
bantahan
terhadap
orang
yang
mengatakan
bahwa
Allah
mempunyai
anak.
Setelah
itu,
surat
ini
membicarkan
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
dalam
penciptaan
langit,
bumi
dan
manusia.
Ihwal
bahwa
jika
manusia
mengingkari
Allah
Dia
tetap
Mahakaya
dan
tidak
membutuhkannya,
dan
apabila
mereka
bersyukur
akan
diridai
Allah;
dan
bahwa
Allah
tidak
akan
pernah
merelakan
kekufuran,
juga
merupakan
persoalan-persoalan
yang
dibahas
dalam
surat
ini.
Selain
itu,
dibicarakan
pula
watak
dan
tabiat
manusia
yang
secara
umum
memiliki
dua
karakter.
Pertama,
apabila
tertimpa
musibah
ia
akan
berdoa
dan
kembali
kepada
Tuhannya
dan,
kedua,
apabila
mendapat
kebahagiaan
ia
segera
melupakan
apa
yang
dahulu
dimintanya.
Kemudian
dibicarakan
pula
perbandingan
antara
orang
yang
waspada
menghadapi
kehidupan
akhirat
dan
mengharap
rahmat
Tuhannya
dengan
orang-orang
yang
membangkang
Tuhannya,
serta
balasan
masing-masing
di
hari
kiamat.
Ihwal
pemberian
rahmat
kepada
mereka
dengan
menurunkan
air
hujan,
juga
disebut
di
sini.
Dengan
air
itu,
Allah
menghidupkan
bumi
setelah
sebelumnya
tandus
dan
mati,
dan
menumbuhkan
pepohonan
dan
proses
pertumbuhannya
yang
melalui
beberapa
fase.
Itu
semua
mengandung
peringatan
dan
pelajaran
bagi
orang-orang
yang
berakal.
Surat
ini
kemudian
berbicara
kembali
mengenai
al-Qur'ân
dan
pengaruhnya
terhadap
orang-orang
yang
takut
kepada
Tuhan.
Di
dalam
al-Qur'ân
itu,
Allah
memberikan
berbagai
tamsil
agar
mereka
mau
mengambil
pelajaran
dan
peringatan,
al-Qur'ân
yang
tidak
bengkok,
supaya
mereka
bersiap-
siap
dan
berhati-hati.
Di
bagian
lain,
terdapat
perbandingan
antara
hamba
yang
musyrik
dan
hamba
yang
tulus
beribadah
kepada
Allah.
Mereka
tidaklah
sama!
Juga
terdapat
peringatan
bahwa
kematian
adalah
suatu
keniscayaan
bagi
semua
makhluk
hidup.
Mereka
akan
saling
menyalahkan
di
hadapan
Allah.
Selain
itu,
terdapat
pula
keterangan
mengenai
akhir
perjalanan
orang
yang
mendustakan
Allah
dan
menustakan
kebenaran
yang
dibawa
Rasul-Nya,
serta
akhir
perjalanan
orang-orang
yang
benar
dalam
perkataannya
dan
membenarkan
serta
mempercayai
ajaran-ajaran
yang
disampaikan
mereka.
Surat
ini
mengisahkan
pula
bahwa
orang-orang
musyrik,
apabia
ditanya
mengenai
siapa
pencipta
langit
dan
bumi,
akan
mengatakan
"Allah".
Tetapi,
kendati
demikian,
mereka
tetap
menyembah
berhala
yang
sama
sekali
tidak
dapat
menolak
musibah
yang
dikehendaki
Allah
dan
tidak
bisa
pula
menahan
rahmat
jika
Allah
berkehendak
menurunkannya
kepada
mereka.
Setelah
itu,
surat
ini
menegaskan
bahwa
kitab
suci
al-Qur'ân
ini
diturunkan
dengan
benar.
Oleh
karena
itu,
barangsiapa
yang
mau
mengambil
petunjuk
dari
al-Qur'ân,
maka
keuntungannya
akan
kembali
kepada
dirinya
sendiri.
Begitu
pula
sebaliknya,
barangsiapa
yang
tersesat,
maka
dosanya
pun
akan
ditanggung
sendiri.
Selain
itu,
surat
ini
menegaskan
pula
bahwa
Rasulullah
saw.
diutus
bukan
sebagai
penguasa.
Setelah
itu,
surat
ini
kembali
mengingatkan
mereka,
orang-orang
musyrik,
tentang
kematian
dan
hari
kebangkitan,
dan
bahwa
apa
yang
mereka
anggap
sebagai
sekutu-sekutu
Allah
tidak
memiliki
apa-apa,
bahkan
syafaat
sekalipun.
Syafaat
hanya
ada
pada
Allah
Swt.
Ketika
pembicaraan
mengenai
ancaman
yang
diberikan
kepada
orang-orang
yang
durhaka
dan
orang-orang
yang
berlebih-
lebihan
berupa
siksa
yang
sangat
pedih--yang
bisa
jadi
menimbulkan
perasaan
putus
asa
akan
rahmat
Allah
pada
diri
manusia--Allah
membuka
pintu
harapan
lagi.
Firman-Nya
yang
berbunyi:
"Katakan,
wahai
Muhammad,
kepada
orang-orang
yang
berlebih-lebihan
atas
diri
mereka,
'Jangan
kalian
berputus
asa
akan
rahmat
Allah.
Sesungguhnya
Allah
akan
mengampuni
semua
dosa.
Dia
sungguh
Maha
Pengampun
dan
Maha
Pengasih',"
yang
disebut
di
bagian
akhir
surat
ini,
adalah
isyarat
untuk
itu.
Allah
kemudian
mengajak
mereka
untuk
kembali
kepada-Nya
sebelum
datangnya
siksaan
secara
tiba-tiba
pada
saat
mereka
tidak
merasakannya.
Dalam
hal
ini,
Allah
berfirman,
"Pada
hari
kiamat
kamu
akan
melihat
wajah
orang-orang
yang
mendustakan
Allah
tampak
hitam,
dan
orang-orang
yang
bertakwa
kepada-Nya
tidak
akan
menderita
dan
tidak
akan
bersedih
hati."
Surat
ini
kemudian
diakhiri
dengan
pembicaraan
mengenai
hari
akhir,
mulai
dari
peniupan
sangkakala
yang
membuat
semua
makhluk
yang
ada
di
langit
dan
di
bumi
jatuh
tersungkur,
kecuali
mereka
yang
dikehendaki-Nya,
sampai
kepada
pengambilan
hak
oleh
masing-masing
orang.
Penghuni
neraka
akan
digiring
ke
dalam
neraka,
dan
penghuni
surga
akan
diantar
ke
surga.
Penghuni
surga
akan
berkata,
"Puji
syukur
bagi
Allah
yang
telah
menepati
janji-Nya
kepada
kita."
Perkara
antara
mereka
telah
diputuskan
dengan
benar.
Mereka
pun,
kemudian,
mengucapkan,
"Al-hamd-u
lillâh-i
rabb-i
al-'âlamîn."]]
Penurunan
al-Qur'ân
adalah
oleh
Allah
yang
kehendak-Nya
tidak
dikendalikan
oleh
siapa
pun,
Yang
Mahabijaksana
pada
setiap
tindakan
dan
ketetapan
hukum-Nya.
]
[ تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم ] — الزمر 1
#2
Al-Israa
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[17
~
AL-ISRA'
(PERJALANAN
MALAM)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
111
ayat
~
Surat
ini
memuat
111
ayat
yang
semuanya
turun
pada
periode
Mekah,
kecuali
dua
belas
ayat,
yaitu
ayat
26,
32,
33,
57,
dan
delapan
ayat
dari
ayat
73
hingga
ayat
80
yang
turun
pada
periode
Madinah.
Surat
ini
diawali
dengan
tasbih
menyucikan
Allah,
lalu
dilanjutkan
dengan
menyinggung
perjalanan
Nabi
Muhammad
di
malam
hari
(isrâ'),
risalah
Mûsâ
dan
berbagai
peristiwa
yang
terjadi
pada
Banû
Isrâ'îl.
Kemudian
disinggung
pula
mengenai
kedudukan
al-Qur'ân
dalam
memberikan
petunjuk,
pemaparan
tanda-tanda
kekuasaan
Allah
di
alam
raya
(âyât
kawniyyah)
di
malam
dan
di
siang
hari,
dan
ganjaran
manusia
pada
hari
kiamat
atas
perbuatan-perbuatannya
di
dunia.
Dijelaskan
pula
tentang
hal-hal
yang
menyebabkan
musnahnya
beberapa
bangsa,
lalu
dilanjutkan
dengan
memaparkan
hal
ihwal
perbuatan
manusia
yang
hasilnya
akan
diterima
di
akhirat.
Kemudian
dibicarakan
tentang
kewajiban
menghormati
orangtua,
keadaan
manusia
berkaitan
dengan
harta
mereka,
sepuluh
perintah
yang
di
antaranya
membangun
masyarakat
ideal,
dan
bantahan
Allah
terhadap
kebohongan
yang
diada-adakan
oleh
orang-orang
musyrik
tentang
malaikat
serta
penjelasan
al-Qur'ân
tentang
pengulang-ulangan
argumentasi
al-Qur'ân.
Selanjutnya
Allah
mengisyaratkan
ihwal
diri-Nya
yang
pantas
untuk
dipuji,
keingkaran
orang-orang
musyrik,
pemaparan
wasiat-wasiat-Nya
kepada
orang-orang
yang
beriman,
dan
sikap
Allah
terhadap
orang
orang
kafir
di
dunia
dan
akhirat.
Dilanjutkan
dengan
penjelasan-Nya
tentang
asal
penciptaan
manusia
dan
setan
dan
ancaman-Nya
terhadap
orang
orang
musyrik.
Kemudian
dijelaskan
pula
tentang
kemuliaan
manusia,
penjelasan
Allah
tentang
siksaan-Nya
di
hari
akhirat,
pemaparan
upaya
orang-orang
musyrik
dalam
memalingkan
seruan
nabi,
dilanjutkan
dengan
ketetapan
Allah
dalam
menetapkan
seruan
itu,
lalu
Allah
berpesan
kepada
Nabi
dengan
beberapa
wasiat
dan
doa.
Dalam
ayat
selanjutnya,
Allah
mengisyaratkan
tentang
kedudukan
al-Qur'ân,
kemudian
membicarakan
tentang
ruh
dan
rahasianya,
tentang
mukjizat
al-Qur'ân
yang
membuat
jin
dan
manusia
tidak
mampu
mendatangkan
ayat-ayat
seperti
al-Qur'ân
dan
bagaimana
manusia
menyikapinya,
tentang
kekuasaan
Allah
untuk
mendatangkan
ayat-ayat
lainnya,
tentang
kedudukan
al-Qur'ân
yang
mencakup
kebenaran
dan
tentang
keadaan
orang-orang
Mukmin
yang
jujur
dalam
keimanannya
serta
himbauan
untuk
selalu
memuji
Allah
dan
mengagungkan-Nya.]]
Mahasuci
Allah
dari
hal-hal
yang
tidak
pantas
untuk
disandangkan
kepada
diri-Nya.
Dialah
yang
memperjalankan
hamba-Nya,
Muhammad,
pada
sebagian
waktu
malam
dari
Masjid
al-Haram,
di
Mekah,
menuju
Masjid
al-Aqshâ,
di
Bayt
al-Maqdis,
yang
telah
Kami
berkahi
sekelilingnya
berupa
makanan
untuk
masyarakat
sekitarnya.
Semua
itu
agar
Kami
memperlihatkan
tanda-tanda
kekuasaan
Kami
yang
dapat
menjadi
bukti
yang
menunjuki
keesaan
dan
kebesaran
kekuasaan
Kami.
Sesungguhnya
hanya
Allahlah
yang
Maha
Mendengar
lagi
Maha
Melihat.
]
[ سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير ] — الإسراء 1