Filter Results
Resultado: ( 1 para 1 de 1 )
(0,023 segundos)
#1
Ash-Sh'araa
:1
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
[[26
~
ASY-SYU'ARA'
(PARA
PUJANGGA)
Pendahuluan:
Makkiyyah,
227
ayat
~
Surat
ini
dibuka
dengan
menyebutkan
kedudukan
al-Qur'ân.
Setelah
itu,
pembicaraan
beralih
kepada
ancaman
atas
orang-orang
kafir
yang
akan
disiksa
oleh
Allah
Yang
Mahakuasa,
dan
hiburan
untuk
Nabi
Muhammad
saw.
dari
pendustaan
kaumnya
dengan
mengatakan
bahwa
perlakuan
seperti
itu
juga
dialami
oleh
beberapa
rasul
sebelumnya.
Maka
disebutlah
kisah
tentang
pertemuan
Mûsâ
dan
Hârûn
dengan
Fir'aun
yang
membangkang;
kisah
Ibrâhîm
a.
s.,
bapak
para
nabi;
kisah
Nûh
a.
s.
bersama
kaumnya;
kisah
Hûd
a.
s.
dengan
kabilah
'Ad
dan
Shâlih
a.
s.
dengan
kabilah
Tsamûd;
kisah
Lûth
a.
s.
yang,
dalam
surat
ini,
dipaparkan
secara
lebih
panjang;
dan
kisah
Syu'aib
a.
s.
tatkala
menghadapi
penduduk
Aykah.
Kisah
ketujuh
nabi
ini,
jika
dicermati,
mencerminkan
kesatuan
pokok-pokok
dasar
dakwah
seluruh
rasul
yang
diutus
kepada
umat
manusia.
Di
sisi
lain,
dari
kisah-kisah
itu
dapat
dipetik
satu
pelajaran
bahwa
orang-orang
kafir
menggunakan
cara
yang
praktis
sama
ketika
menolak
risalah
dan
seruan
para
rasul.
Surat
ini
ditutup,
sebagaimana
awalnya,
dengan
menyebutkan
kedudukan
al-Qur'ân,
yang
diakhiri
dengan
menolak
anggapan
bahwa
Nabi
Muhammad
saw.
adalah
seorang
pujangga
dan
al-Qur'ân
tidak
lebih
dari
kumpulan
syair.]]
Thâ,
Sîn,
Mîm.
Dengan
huruf-huruf
ini
dijelaskan
bahwa
al-Qur'ân
merupakan
suatu
mukjizat
yang
menundukkan
manusia.
Untaian
katanya
tersusun
dari
huruf-huruf
sejenis
itu,
yang
masih
dalam
kemampuan
manusia.
Karenanya,
jika
ada
yang
meragukan
bahwa
al-Qur'ân
benar-benar
diturunkan
oleh
Allah,
tentu
manusia
dapat
membuat
seperti
itu.
Tapi
sudah
pasti,
tak
ada
satu
makhluk
pun
yang
dapat
membuat
seperti
al-Qur'ân.
]
[ طسم ] — الشعراء 1