Filter Results
النتائج: ( 1 الى 1 من 1 )
(0,023 ثانية)
#1
البقرة
:189
— Indonesian
, Muhammad Quraish Shihab et al.
[
Suatu
kaum
bertanya
kepadamu,
Muhammad,
tentang
bulan
sabit,
yang
mulanya
tampak
tipis
seperti
benang
kemudian
lambat
laun
makin
membesar
hingga
sempurna.
Setelah
itu
ia
pun
perlahan-lahan
mengecil
kembali
hingga
tampak
seperti
semula.
Hal
ini
berbeda
dengan
matahari
yang
tidak
berubah-ubah.
Apa
gerangan
hikmah
di
balik
itu
sehingga
setiap
bulan
muncul
sabit
baru?
Katakan
kepada
mereka,
wahai
Muhammad,
"Berulang-ulangnya
kemunculan
bulan
sabit
dan
perubahan
yang
terjadi
itu,
selain
mengandung
hikmah,
juga
untuk
kemaslahatan
agama
dan
kehidupan
keseharianmu.
Di
samping
untuk
menentukan
waktu-waktu
keseharianmu,
ia
juga
menentukan
waktu
pelaksanaan
haji
yang
merupakan
salah
satu
sokoguru
agamamu.
(1)
Kalaulah
bulan
sabit
itu
tidak
berubah-ubah
sebagaimana
halnya
matahari,
tentu
kamu
tidak
dapat
menentukan
waktu-waktu
tersebut.
Tetapi
ketidaktahuanmu
tentang
hikmah
perubahan
bulan
sabit
itu
tidak
semestinya
membuat
kamu
ragu
akan
adanya
Sang
Maha
Pencipta.
Dan
bukanlah
termasuk
kebaktian
memasuki
rumah
dari
arah
belakang,
suatu
tindakan
yang
menyalahi
kebiasaan.
Tetapi
kebaktian
adalah
ketakwaan
dan
keikhlasan,
memasuki
rumah
melalui
pintu-pintunya
sebagaimana
dilakukan
setiap
orang,
dan
mencari
kebenaran
dengan
mengikuti
dalil
yang
argumentatif.
Maka
mohonlah
perkenan
Allah,
takutlah
akan
siksa-Nya
dan
mintalah
keselamatan
dari
siksa
api
neraka."
{(1)
Bulan
memantulkan
sinar
matahari
ke
arah
bumi
dari
permukaannya
yang
tampak
dan
terang,
hingga
terlihatlah
bulan
sabit.
Apabila,
pada
paruh
pertama,
bulan
berada
pada
posisi
di
antara
matahari
dan
bumi,
bulan
itu
menyusut,
yang
berarti
bulan
sabit
baru
muncul
untuk
seluruh
penduduk
bumi.
Dan
apabila
berada
di
arah
berhadapan
dengan
matahari,
ketika
bumi
berada
di
tengah,
akan
tampak
bulan
purnama.
Kemudian,
purnama
itu
kembali
mengecil
sedikit
demi
sedikit
sampai
kepada
paruh
kedua.
Dengan
begitu,
sempurnalah
satu
bulan
komariah
selama
29,5309
hari.
Atas
dasar
itu,
dapat
ditentukan
penanggalan
Arab,
sejak
munculnya
bulan
sabit
hingga
tampak
sempurna.
Bila
bulan
sabit
itu
tampak
seperti
garis
tipis
di
ufuk
barat,
kemudian
tenggelam
beberapa
detik
setelah
tenggelamnya
matahari,
dapat
dilakukan
ru'yah
terhadap
bulan
baru.
Dengan
cara
demikian
dapat
ditentukan
dengan
mudah
penanggalan
bulan
komariah.
Perputaran
bulan
itulah
yang
mengajarkan
manusia
cara
penghitungan
bulan,
termasuk
di
antaranya
bulan
haji.
}
]
[ يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى وأتوا البيوت من أبوابها واتقوا الله لعلكم تفلحون ] — البقرة 189